Darilaut – Prof. Dr. Eduart Wolok terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Pengurus Wilayah (PW) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Provinsi Gorontalo.
Eduart kembali memimpin ISNU Gorontalo periode 2024-2029 melalui konferensi wilayah (Konferwil) ISNU Provinsi Gorontalo yang berlangsung di Hotel UTC Damhil UNG, pada Selasa (21/5).
Konferwil ini dihadiri oleh Ketua Umum ISNU Prof. Dr. Ali Masykur Musa, pengurus cabang ISNU wilayah Gorontalo, Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Gorontalo, dan Rektor Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo.
Sebelumnya, dalam sambutan, Eduart mengatakan, ada beberapa program yang sempat tidak bisa berjalan karena setelah pelantikan dihantam pandemi Covid-19 yang sedikit mengganggu dinamika, akan tetapi hal itu tidak mengganggu eksistensi.
Eduart yang juga Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG) berharap, ke depan siapa pun yang akan menjadi pengurus wilayah ISNU Gorontalo, wajib untuk terus berkontribusi.
Menurut Eduart ISNU hadir untuk Indonesia dan kehadiran ISNU untuk memberikan citra positif bahwa intelektualitas, terutama di kalangan sarjana Nahdlatul Ulama itu harus terus diperjuangkan dan ditingkatkan dari waktu ke waktu.
Ketua Umum Pimpinan Pusat ISNU, Ali Masykur Musa, mengatakan, ISNU PW Gorontalo menjadi salah satu di antara organisasi ISNU di seluruh Indonesia yang proses alih kepemimpinannya itu secara teratur sehingga bisa dicontoh oleh PW yang lain.
“Terjadi continuity of change atau continuity of leader dari seluruh kepemimpinan yang ada karena ada beberapa wilayah yang tidak regular,” ujarnya.
“Sekali ber-ISNU, tetap mengemban secara amanah, konsisten, berjuang mengabdi kepada Nahdlatul Ulama lewat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama.”
Ali menyampaikan terimakasih dan rasa hormat, serta atas nama pimpinan pusat atas kedewasaan dan kematangan berorganisasi ISNU PW Gorontalo.
Ali mengatakan yang perlu dilakukan oleh ISNU, pertama, transformasi organisasi. Kedua, ISNU harus terus melakukan adaptasi atau transformasi intelektual. Ketiga, transformasi ekonomi. (Sulis Dwi Fadjar Baeda)
