El Niño Menguat, 49 Juta Orang Akan Mengalami Kelaparan Akut, 225 Juta Rawan Pangan

Pada tahun 2016, kekeringan yang disebabkan oleh El Niño di Ziway Dugda, wilayah Oromia di Ethiopia, menyebabkan kelaparan yang meluas. FOTO: OCHA/UN

Darilaut – Program Pangan Dunia (WFP) PBB memperkirakan fenomena El Niño yang menguat akan menyebabkan 49 juta orang mengalami kelaparan akut, dan sedikitnya 225 juta orang mengalami kerawanan pangan akut.

Sebagai respon, WFP beserta para mitranya meningkatkan upaya di delapan negara untuk melindungi komunitas-komunitas paling rentan yang sudah bergulat dengan kemiskinan, konflik, pengangguran, dan cuaca ekstrem yang berulang.

Prioritas utamanya mencakup kesiapsiagaan menghadapi banjir, kekeringan, dan badai sebelum bencana tersebut terjadi.

“El Niño merupakan ancaman besar bagi ketahanan pangan jutaan orang yang sudah rentan,” ujar Carl Skau, Pelaksana Tugas Direktur Eksekutif WFP, Rabu, seperti dikutip dari UN News.

“Semakin cepat kita membantu keluarga-keluarga bersiap menghadapi guncangan iklim ini, semakin besar kemampuan kita untuk menyelamatkan nyawa dan melindungi mata pencaharian mereka.”

Kelaparan akut merujuk pada kondisi di mana seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan sehari-harinya.

Peristiwa El Niño Sebelumnya

Belajar dari peristiwa sebelumnya, WFP mencatat bahwa fenomena El Niño tahun 2015-2016 berdampak pada ketahanan pangan 60 hingga 100 juta orang. Proyeksi awal menunjukkan bahwa El Niño tahun 2026-2027 dapat menyebabkan setidaknya 49 juta orang tambahan mengalami kerawanan pangan akut pada akhir tahun depan.

Setelah menganalisis 45 negara yang sudah dikategorikan mengalami kerawanan pangan—dan di mana El Niño akan memengaruhi pola curah hujan, suhu, banjir, serta kekeringan secara signifikan—badan tersebut memperkirakan jumlah total orang yang mengalami kerawanan pangan akut akan meningkat dari 225 juta menjadi 274 juta jiwa, atau kenaikan sekitar 22 persen.

Wilayah Amerika Tengah dan Afrika bagian selatan diperkirakan akan menanggung dampak terberat dari cuaca ekstrem, meskipun dampak signifikan juga diprediksi akan terjadi di Afrika bagian timur serta Asia Selatan dan Asia Tenggara.

WFP menekankan beragamnya dampak El Niño: “Beberapa negara sudah mengalami curah hujan di bawah rata-rata, banjir, dan suhu panas yang tidak biasa, sementara negara-negara lain diperkirakan akan menghadapi kondisi yang memburuk selama musim tanam dan panen mendatang.”

Temuan laporan WFP:

• Amerika Latin dan Karibia dapat mengalami salah satu lonjakan terbesar dalam kerawanan pangan, dengan lebih dari 16 juta orang terdampak.

• Amerika Tengah diproyeksikan mengalami peningkatan proporsional terbesar (83,1 persen) dari seluruh wilayah yang dianalisis dalam laporan tersebut.

• Afrika Timur dan Selatan menghadapi risiko besar, terutama di wilayah di mana musim hujan mendatang sangat krusial bagi produksi pangan. Lebih dari 18 juta orang dapat mengalami penurunan ketahanan pangan, yang mencerminkan peningkatan sebesar 26 persen.

• Negara-negara Afrika bagian selatan sangat rentan karena banyak rumah tangga bergantung pada pertanian subsisten yang mengandalkan curah hujan.

• Asia dan Pasifik dapat mengalami dampak signifikan di beberapa negara yang sudah rentan, dengan perkiraan tambahan 8,2 juta orang menghadapi kerawanan pangan akut.

• Afrika Barat dan Tengah juga berisiko, dengan kerawanan pangan diproyeksikan meningkat sebesar 12 persen dan berdampak pada tambahan hampir enam juta orang.

WFP dan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) telah menyerukan peningkatan dukungan untuk membantu masyarakat yang berisiko bersiap menghadapi El Niño guna melindungi nyawa, mata pencaharian, dan ketahanan pangan sebelum situasi darurat memburuk.

Exit mobile version