Darilaut – Lebih dari 167.000 orang meninggal di Indonesia selama kejadian tsunami dahsyat pada tanggal 26 Desember 2024, dan setidaknya 60.000 orang lainnya di negara-negara lain di Samudera Hindia.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) – atas permintaan pemerintah Indonesia – memberikan dukungan bantuan besar kepada para korban yang selamat.
Sepuluh badan PBB terlibat dalam upaya ini, mulai dari Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) yang membantu para pengungsi, hingga Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) yang menyediakan pasokan darurat untuk anak-anak, serta Program Pembangunan PBB yang membantu upaya rekonstruksi.
Di Pulau Simeulue, melansir Indonesia.un.org meskipun merupakan pulau yang paling dekat dengan pusat gempa bumi yang menyebabkan tsunami terbesar di abad ini, jumlah korban tewas di Simeulue relatif rendah.
Enam orang meninggal di pulau berpenduduk 100.000 jiwa ini – angka yang lebih rendah dibandingkan dengan daerah lain yang terkena dampak – setelah gempa bumi terbesar ketiga di dunia sejak seismografi modern digunakan pada tahun 1900.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) memfasilitasi fase tanggap darurat pada tahun 2004 dan, bersama dengan para mitranya, mengadvokasi pentingnya membangun ketangguhan masyarakat melalui pendidikan kebencanaan sejak tahun 2006 berdasarkan praktik-praktik terbaik internasional.



