ENSO Fase Netral, Monsun Australia Makin Menguat

Ilustrasi sunset, laut dan cuaca. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Kondisi cuaca di Indonesia masih dipengaruhi oleh dinamika atmosfer skala global, regional, dan local dalam sepekan ke depan.

Direktorat Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan pada skala global, fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO) berada pada fase netral terlihat dari indeks NINO 3.4 sebesar -0,42, yang tidak memberikan peningkatan yang signifikan terhadap aktivitas konvektif di wilayah Indonesia.

Sementara itu, nilai Dipole Mode Index (DMI) sebesar -0,25 dan berada pada fase netral yang menunjukkan tidak adanya aliran udara signifikan dari Samudra Hindia timur Afrika ke wilayah Indonesia, khususnya bagian barat, sehingga pengaruhnya terhadap distribusi curah hujan di Indonesia juga masih terbatas.

Pada skala regional, menurut BMKG, Monsun Australia terpantau semakin menguat dan diprakirakan masih akan terus menguat dalam beberapa hari ke depan.

Kondisi ini mendorong peningkatan massa udara dari Australia menuju Indonesia yang umumnya bersifat lebih kering.

Konsisten dengan hal tersebut, analisis angin zonal menunjukkan dominasi angin timuran di sebagian besar wilayah Indonesia, yang mengindikasikan bahwa sejumlah wilayah mulai mengalami masa peralihan menuju musiNamun demikian, dinamika atmosfer lain masih turut memengaruhi potensi hujan di sebagian wilayah di Indonesia.

Aktivitas Madden – Julian Oscillation (MJO) spasial diprakirakan melintasi sebagian besar wilayah Sumatera serta sebagian Papua, sehingga berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut.

Selain itu, Gelombang Rossby Ekuatorial yang berpropagasi ke arah barat juga diprakirakan aktif melintasi sebagian wilayah Sumatra dan Jawa.

Sementara itu, Gelombang Kelvin yang berpropagasi ke arah timur diprakirakan turut aktif dan melintasi sebagian besar wilayah Sumatra, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, serta sebagian wilayah Kalimantan dan Papua. Selain faktor tersebut, sirkulasi siklonik juga berpotensi terbentuk di perairan barat Aceh serta Laut Banda.

Sistem-sistem ini membentuk daerah konvergensi dan konfluensi yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut kemarau, kata BMKG.

Pada skala lokal, labilitas atmosfer juga terpantau cukup kuat di sejumlah wilayah, yang turut mendukung proses konvektif.

Wilayah-wilayah tersebut meliputi Aceh, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Papua Selatan.

Berdasarkan pengamatan citra satelit BMKG pada periode yang sama juga terpantau adanya titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi di wilayah Riau, Kepulauan Bangka Belitung, dan Kalimantan Barat.

Keberadaan titik panas (hotspot) tersebut terjadi karena sebaran hujan yang tidak merata di beberapa Provinsi tersebut, sehingga pada wilayah yang minim sebaran awan hujan, curah hujan, maupun hari hujannya dapat memicu terjadinya titik panas (hotspot).

Sebaran hujan yang tidak merata tersebut merupakan kondisi yang dapat terjadi pada masa peralihan musim atau pancaroba.

Exit mobile version