Darilaut – Ini bukan Danau Limboto yang identik dengan meluasnya invasi gulma eceng gondok. Ini di Sungai Bolango, Kota Gorontalo.
Daerah aliran sungai ini membentang panjang dari Kabupaten Bone Bolango dan bertemu dengan lepasan air Danau Limboto di dekat Jembatan Potanga.
Biasanya gulma air eceng gondok itu, hanyut terbawa aliran Sungai Bolango hingga bertemu dengan Sungai Bone dan muara di Pelabuhan Gorontalo.
Lepasan eceng gondok yang mengganggu estetika ini terbawa hingga Teluk Gorontalo dan Teluk Tomini, terombang-ambing di perairan laut. Ada yang terus terbawa ombak dan mengikuti arus, ada pula yang dibawa ke pantai.
Itu bila kondisi aliran air sungai cukup baik dan mengalir dengan lancar.
Kemarau tahun ini diperparah El Niño sangat kuat memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk di Provinsi Gorontalo.
Debit air di aliran sungai Bolango dan Danau Limboto menyusut. Invasi eceng gondok meluas di Sungai Bolango, menutupi permukaan sungai lebih dari satu kilometer.
Di Sungai Bolango, eceng gondok telah mengganggu ekosistem perairan. Pertumbuhan yang cepat dan penumpukan eceng gondok yang berlebihan menyumbat dan menghambat aliran sungai, mengurangi kapasitas tampung sungai dan meningkatkan risiko banjir di musim hujan.
Tidak hanya eceng gondok, rerumputan bertumbuh di dasar sungai mempercepat pendangkalan dan menganggu jalannya populasi ikan.
Apalagi, terdapat ikan beruaya yang siklus hidupnya di perairan darat dan laut, seperti nike, sidat dan belanak.
Foto-foto eceng gondok ditampilkan secara serial berurutan tanggal dan lokasi yang sama dalam tiga minggu. Pengambilan foto dilakukan pada tanggal 5 September, 11 September, 21 September dan 26 September di Kelurahan Siendeng, Kelurahan Biawao, Kelurahan Biawu dan dekat perbatasan Kelurahan Tenda.
Terdapat kardus dan eceng gondok yang dibuang ke Sungai Bolango selama tiga minggu tetap berada ditempat yang sama, di Kelurahan Biawao dan Biawu.
Antara Kelurahan Biawao dan Siendeng pengambilan foto tanggal 5 September masih terdapat aliran air kecil. Selanjutnya, tanggal 11 September aliran air kecil tersebut sudah tertutup eceng gondok.
Sementara di perbatasan Siendeng dan Tenda, masih terdapat aliran air kecil yang mengalir.
Di perbatasan Kelurahan Biawu dan Biawao selain eceng gondok, dasar sungai sudah ditumbuhi rerumputan. Beberapa bagian masih terdapat air.
Menurut Prof. Krismono (2014) penutupan eceng gondok dapat mengakibatkan pemyempitan luas perairan, menurunkan mutu air, serta mengganggu jalannya transportasi dan populasi ikan.
Sejatinya, eceng gondok bermanfaat sebagai tempat memijah, mencari makanan, perlindungan dari predator. Namun, di balik tampilannya yang cantik, eceng gondok dikenal sebagai gulma invasif, yaitu tumbuhan yang tumbuh sangat cepat dan mendominasi suatu wilayah.
Organisasi nirlaba YIARI atau Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (2026) menguraikan bahwa hasil penelitian yang diterbitkan Journal of Community Empowering Service (2020) menunjukkan eceng gondok dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, antara lain: mengganggu perikanan dan pariwisata; mempercepat sedimentasi perairan; dan mengurangi volume dan kualitas air.
Ketika populasi membludak, eceng gondok bisa menutupi permukaan air dan menghalangi cahaya Matahari masuk ke dalam perairan. Akibatnya, organisme air kesulitan berfotosintesis dan kadar oksigen di dalam air menurun.
Selain itu, pertumbuhan eceng gondok yang tidak terkendali dapat menghambat jalur transportasi air; merusak habitat fauna air; dan meningkatkan risiko penyebaran penyakit akibat nyamuk.
Berasal Dari Sungai Amazon
Eeceng gondok dengan nama ilmiah Eichhornia crassipes bukan tanaman asli Indonesia, akan tetapi berasal dari daerah hulu Sungai Amazon di Amerika Selatan.
Tanaman ini dibawa dari Brazil, masuk pertama kali ke Indonesia dikenalkan oleh Ahli Botani dengan membuangnya ke sungai yang berada di sekitar Kebun Raya Bogor yang menyebabkan pertumbuhannya menyebar ke sungai, rawa dan danau (Dewantara et al, 2021 dalam Indra Gandhi Ahmad et al, 2026).
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Syarif Prasetyo (2024) menguraikan tumbuhan air dari Sungai Amazon ini masuk daftar 100 gulma paling invasif di dunia, memiliki kemampuan tumbuh pesat secara vegetatif dan generatif. Di danau, eceng gondok memicu percepatan penyusutan air melalui evapotranspirasi, menurunkan kadar oksigen terlarut yang berakibat pada hilangnya beragam spesies dan menurunnya produksi ikan.
Untuk membatasi penyebaran eceng gondok yang meluas di suatu perairan, menurut Syarif Prasetyo (2024) terdapat pengendalian secara fisik (mekanis), kimiawi maupun pemanfaatan agen biologis.
Pengendalian secara fisik tidak memerlukan keahlian khusus untuk membersihkan eceng gondok dari perairan. Namun, eceng gondok yang dipotong dan tenggelam akan memengaruhi kadar oksigen terlarut serta penyuburan (eutrofikasi) perairan sehingga dapat memicu ledakan pertumbuhan eceng gondok itu sendiri.
Pengendalian secara kimiawi dapat menghemat biaya maupun tenaga dibandingkan secara fisik, terutama untuk penanganan invasi eceng gondok di perairan luas. Namun, pemakaian herbisida dalam pengendalian eceng gondok juga dapat memusnahkan tumbuhan non target yang dapat menimbulkan permasalahan ekologis secara luas.
Pengendalian menggunakan agen biologis untuk mengurangi jumlah eceng gondok menjadi opsi yang dapat dipilih. Kelemahan pengendalian secara biologis adalah lamanya proses pembersihan dibandingkan dengan metode mekanis dan kimiawi.
Metode biologis relatif aman bagi kesehatan lingkungan perairan tetapi membutuhkan waktu panjang sedangan metode mekanis dan kimiawi dapat diterapkan secara efektif dan efisien, tetapi berdampak negatif terhadap kondisi ekologi perairan.
Manfaat Eceng Gondok
Eceng gondok yang tidak dikendalikan pertumbuhannya akan merugikan organisme air lainnya, mempercepat pendangkalan danau dan penyempitan aliran Sungai.
Terdapat sejumlah manfaat eceng gondok. Tanaman ini daoat dijadikan campuran untuk pupuk dampuran kompos dan biogas.
Eceng Gondok juga telah dimanfaatkan untuk bahan baku kerajinan tangan seperti tas, wadah tempat buah atau makanan dan bahan baku pembuat pakan ikan.
Hasil penelilitian Indra Gandhi Ahmad et al (2026), kadar protein pakan dengan bahan dasar eceng gondok lebih dari 35%. Dengan kadar protein lebih dari 35% dapat dijadikan sebagai pakan bagi ikan agar dapat memicu pertumbuhan bobot tubuh ikan.
Penelitian lainnya menyebutkan tanaman eceng gondok memiliki kandungan karbon cukup tinggi, berpotensi untuk dijadikan bahan baku pembuatan karbon aktif. (Verrianto Madjowa)
