Evaluasi Pola Hanyutan Korban Kapal Arupadhatu 1 yang Hilang Saat Meliput Letusan Gunung Anak Krakatau

GAMBAR: BRIN

Darilaut – Ocean Climate Research Group (OCRG), Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengevaluasi model transpor partikel yang digunakan untuk memetakan pola hanyutan korban kapal cepat (Speed boat) Arupadhatu 1.

Terdapat delapan orang – termasuk lima jurnalis — korban di kapal cepat Arupadhatu 1 yang hilang di Selat Sunda, pada 7 September, saat meliput letusan Gunung Anak Krakatau.

Delapan orang tersebut, Warta sebagai nakhoda (55 Tahun); ⁠Surakman, anak buah kapal (60); ⁠Heriyanto, pemandu (49); ⁠M. Bagus Khoirunnas, jurnalis Antara; ⁠Ari Basuki, jurnalis Merdeka; ⁠Yudhis, jurnalis Inews; ⁠Daus, jurnalis Anadolu; dan ⁠Donal, jurnalis freelance.

Salah satu korban hilang dipastikan jenazah Surakman (ABK) yang ditemukan oleh nelayan di Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, pada 12 September 2026, menurut Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten. Kepastian identitas korban diperoleh berdasarkan surat nomor B/ND-274/IX/KES.19/2026/Rollabdokes Polri dengan hasil pemeriksaan DNA menunjukkan kecocokan dengan DNA anak korban, Yayat, sehingga secara medis forensik korban dapat diidentifikasi sebagai Surakman.

Kejadian Geologi

Aktvitas vulkanik Gunung Anak Krakatau hingga 7 September masih tinggi. Hal ini ditandai dengan terekamnya gempa-gempa yang berasosiasi dengan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Hal ini menunjukan bahwa erupsi dapat kembali terjadi sewaktu-waktu, tulis Badan Geologi melalui akun X @badangeologi_/.

Badan Geologi melalui Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau yang berada di Pasauran, Banten dan Kalianda, Lampung terus melakukan pemantauan intensif.

Hasil pemantauan Badan Geologi hingga Senin 7 September siang, terjadi 17 low frekuensi atau gempa berfrekuensi rendah yang dapat berkaitan dengan dinamika fluida gunung api. Aktivitas 23 gempa hybrid (fase banyak), sinyal beberapa fase yang dapat mencerminkan rekahan batuan dan pergerakan fluida.

Badan Geologi mencatat juga 9 tremor harmonik, getaran berirama yang dapat berkaitan dengan pergerakan fluida dalam system gunung api. Tremor menerus, getaran yang terekam terus-menerus, menunjukkan aktivitas berkelanjutan dalam sistem gunung api.

Saat kejadian korban kapal cepat Arupadhatu 1 hilang status Gunung Anak Krakatau berada pada level III (Siaga). Hasil analisis dan evaluasi secara menyeluruh, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) terhitung mulai tanggal 21 September 2026 pukul 18.30 WIB.

Muka Air Laut

BRIN memantau aktivitas vulkanik gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, sebagai upaya mitigasi bencana. Salah satu yang patut diwaspadai potensi terjadinya tsunami.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Semeidi Husrin, menjelaskan bahwa hasil pemantauan menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas vulkanik pada periode awal September 2026 belum disertai anomali muka air yang mengindikasikan potensi gelombang tsunami.

Pemantauan tersebut dengan menggunakan teknologi Inexpensive Device for Sea-Level measurement (IDSL) atau Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut (PUMMA) yang ditempatkan di sekitar Kawasan gunung api Anak Krakatau, termasuk Pulau Rakata dan (sebelumnya) Pulau Panjang.

Secara umum, menurut Semeidi, selama meningkatnya aktivitas gunung api Anak Krakatau, tidak menemukan ada anomali yang berpotensi bisa membangkitkan gelombang tsunami.

Pemantauan menghadapi tantangan teknis di lapangan. Aktivitas vulkanik dapat menghasilkan material yang menutupi panel surya dan mengganggu pasokan daya perangkat. Kondisi tersebut menyebabkan jeda penerimaan data selama sekitar 11 jam pada 6 September 2026.

“Pada hari Senin, 7 September 2026 saat peristiwa jurnalis hilang kontak, kami mendeteksi peristiwa aneh karena ada anomali tapi kami pastikan itu bukan tsunami,” kata Semeidi, seperti dikutip dari Brin.go.id.

Pola Hanyutan KM Arupadhatu

Penemuan satu jenazah korban KM Arupadhatu di Pulau Enggano, Bengkulu, pada 12 September 2026 menjadi data penting bagi OCRG, Pusat Riset Iklim dan Atmosfer – BRIN dalam mengevaluasi model transpor partikel yang digunakan untuk memetakan pola hanyutan di Selat Sunda.

Hasil perhitungan ulang menunjukkan bahwa temuan tersebut berada dalam sebaran salah satu kelompok skenario simulasi yang dibuat sebelum informasi penemuan korban diketahui tim peneliti.

Menurut peneliti PRIMA BRIN, Prof. Widodo Setiyo Pranowo, hasil simulasi yang paling sesuai dengan temuan di Pulau Enggano berasal dari skenario menggunakan titik koordinat hilang kontak versi Bangka Pos (bangka.tribunnews.com).

Dalam simulasi tersebut, empat varian skenario menempatkan partikel di sekitar perairan Pulau Enggano pada 12 September 2026, bertepatan dengan tanggal ditemukannya jenazah.

Prof. Widodo mengatakan yang cocok kelompok skenario dengan titik hilang kontak versi Bangka Pos. Dari hasil simulasi kami menggunakan Euler-Lagrangian particle transport, empat variannya menempatkan korban di perairan Pulau Enggano tepat pada 12 September 2026.

Salah satu dari empat varian skenario seperti dalam gambar berikut ini.

GAMBAR: WIDODO SETIYO PRANOWO/PRIMA-BRIN

Prof. Widodo menjelaskan bahwa hasil tersebut bukan berarti model dapat menunjukkan lokasi korban secara pasti. Kesesuaian baru dapat dikonfirmasi pada tingkat kawasan Pulau Enggano karena tim belum memperoleh koordinat geografis persis lokasi jenazah ditemukan.

Data mengenai posisi pantai, waktu korban mencapai pantai, serta informasi penggunaan rompi pelampung diperlukan untuk melakukan penelusuran balik atau back trace modeling dengan lebih presisi.

Evaluasi juga menghasilkan temuan penting terkait formulasi model. Perhitungan ulang menunjukkan skenario yang menggunakan data arus total dari Copernicus Marine Environment Monitoring Service (CMEMS), tanpa tambahan dorongan angin melalui formula leeway, memberikan hasil yang lebih sesuai dengan fakta temuan.

Kondisi benda atau jasad yang mengapung hampir rata dengan permukaan air dapat membuat pengaruh angin terhadap pergerakannya berbeda dari asumsi sebelumnya, kata Prof. Widodo.

“Struktur modelnya tidak perlu diubah, bagian itu sudah teruji. Yang kami koreksi adalah bobot skenario dari delapan skenario berbobot sama menjadi hanya empat skenario Bangka Pos,” ujar Prof. Widodo, mengutip Brin.go.id.

“Kami juga mencoba satu rumus atau formula baru khusus jasad, tetapi rumus itu justru memberi hasil lebih buruk.”

Berdasarkan evaluasi tersebut, tim melakukan simulasi ulang untuk periode 7–21 September 2026 hingga pukul 23.00 WIB, atau hari ke-14 sejak kejadian. Simulasi terbaru difokuskan pada koordinat versi Bangka Pos dan selanjutnya akan dikembangkan hingga 5 Oktober 2026.

Hasil pembobotan ulang hingga hari ke-14 menunjukkan sebaran probabilitas yang terbagi ke sejumlah wilayah. Sekitar 41 persen berada di Pulau Enggano dan sekitarnya, 10 persen di perairan lepas barat Bengkulu Selatan, dan 43 persen menuju Samudra Hindia barat Bengkulu. Secara kumulatif, sekitar 42 persen sebaran model telah berada pada kondisi terdampar di pantai.

Prof. Widodo menegaskan bahwa angka tersebut merupakan wilayah peluang, bukan penunjuk lokasi individu. Karena itu, hasil simulasi perlu dibaca sebagai informasi ilmiah untuk memahami kemungkinan pola transport partikel berdasarkan kondisi arus dan parameter yang digunakan.

Temuan di Enggano sekaligus memberikan kesempatan bagi peneliti untuk menguji kembali asumsi, pembobotan skenario, dan parameter model.

Data lapangan yang lebih lengkap akan menjadi masukan penting untuk pengembangan simulasi berikutnya sehingga model transpor partikel dapat semakin baik dalam menggambarkan dinamika hanyutan di perairan Indonesia.

Exit mobile version