Darilaut – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengkaji pergerakan hanyut delapan orang yang hilang kontak –termasuk lima jurnalis—saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau, pada Senin (7/9).
Hingga hari ke-10 Kamis (17/9) tim SAR (Search and Rescue) gabungan belum menemukan 8 orang yang menggunakan speed boat Arupadhatu 1.
Delapan orang yang masih dalam pencarian Warta sebagai nakhoda (55 Tahun); Surakman, anak buah kapal (60); Heriyanto, pemandu (49); M. Bagus Khoirunnas, jurnalis Antara; Ari Basuki, jurnalis Merdeka; Yudhis, jurnalis Inews; Daus, jurnalis Anadolu; dan Donal, jurnalis freelance.
Kajian ini dilakukan untuk memberikan informasi ilmiah tambahan dalam memahami kemungkinan lintasan hanyut delapan orang yang hilang kontak di Selat Sunda pada 7 September 2026 lalu.
Tim Ocean Climate Research Group (OCRG), Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN, memanfaatkan model transpor partikel Euler-Lagrangian untuk memetakan pola pergerakan orang yang hanyut di perairan Selat Sunda.
Dalam satu skenario, partikel bergerak ke barat menyusuri pesisir Lampung, sedangkan skenario lainnya masuk ke arus pantai Samudra Hindia dan bergerak jauh ke arah barat laut. Ketidakpastian 30 kilometer pada titik awal berkembang menjadi sekitar 221 hingga 292 kilometer pada posisi akhir.




