Darilaut – Indonesia, Filipina dan Australia sedang bersiap untuk menghadapi El Niño kemungkinan akan kuat hingga sangat kuat tahun ini dan diprediksi akan berkepanjangan hingga tahun depan.
Layanan Administrasi Atmosfer, Geofisika, dan Astronomi Filipina (PAGASA), Rabu (10/6) mengatakan kondisi El Niño kini hadir di Pasifik tropis
Ada kemungkinan lebih dari 80 persen bahwa ini akan berkembang menjadi El Niño penuh dan kemungkinan akan berlanjut hingga awal tahun 2027.Berita Kelautan Terbaru
El Niño meningkatkan kemungkinan kondisi curah hujan di bawah normal di sebagian besar wilayah negara, meningkatkan risiko kekeringan dan musim kemarau panjang, terutama di daerah-daerah yang rentan.
Melansir Kantor Berita Filipina, Philippine News Agency (PNA), Presiden Filipina, Ferdinand R. Marcos Jr. Senin (22/6) mengatakan pemerintah sedang mengintensifkan persiapan terhadap ancaman fenomena El Niño yang berpotensi parah yang dapat berlanjut hingga tahun depan.
Saat peresmian Proyek Irigasi Waduk Kecil Mabini-Cayacay di Bohol, Marcos mengatakan perkiraan pemerintah menunjukkan kemungkinan besar kondisi kering berkepanjangan akan memengaruhi sebagian wilayah negara tersebut.
Presiden mengatakan pemerintah telah berinvestasi dalam proyek irigasi waduk kecil dan inisiatif pengelolaan air lainnya untuk mengurangi kerentanan petani terhadap kekeringan.
Para petani di daerah rawan kekeringan, kata Marcos, diimbau untuk sementara waktu beralih ke tanaman yang membutuhkan lebih sedikit air.
“Sebagai respons terhadap ancaman El Niño, kami telah menyarankan beberapa petani untuk menanam tanaman komersial bernilai tinggi seperti semangka, jahe, ubi ungu, kacang tanah, dan terong,” katanya.
Pemerintah juga mempromosikan teknologi pertanian adaptif iklim, termasuk pompa bertenaga surya dan sistem penggunaan kembali atau daur ulang air di daerah yang sering dilanda kekeringan.
Bertahan Hingga 2027
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia terjadi pada Juli–September 2026.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan, musim kemarau di Indonesia pada tahun 2026 ini diprediksi lebih kering dan lebih panjang dibanding rata-rata normalnya. Kondisi ini memerlukan penyesuaian ekstra mengingat adanya peluang El Nino.
“BMKG memprediksi fenomena El Nino akan terus bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen, namun demikian dampaknya untuk wilayah Indonesia ketika bertemu periode Musim Kemarau hingga pertengahan bulan Oktober,” ujar Ardhasena.
Dalam menghadapi puncak musim kemarau, BMKG rekomendasikan kepada pelaku sektor pangan untuk menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanaman yang membutuhkan lebih sedikit air, lebih tahan kekeringan, serta memiliki siklus tanam yang lebih pendek.
Sementara bagi sektor sumber daya air, dapat melakukan revitalisasi waduk, memperbaiki jaringan distribusi air, serta memastikan ketersediaan air untuk kebutuhan masyarakat.
Kondisi Lebih Kering
Australia juga telah bersiap menghadapi El Niño yang seringkali membawa kondisi yang lebih kering ke Australia tengah dan timur pada musim dingin dan musim semi.
Namun, cuaca Australia juga dibentuk oleh faktor iklim lainnya, sehingga hasilnya dapat bervariasi.
Biro Meteorologi (Bureau of Meteorology, BoM) Australia memperkirakan peristiwa El Niño kemungkinan akan kuat hingga sangat kuat.
El Niño–Southern Oscillation (ENSO) sekarang berada dalam fase El Niño. Peristiwa El Niño merupakan bagian dari siklus alami di Samudra Pasifik yang dapat memengaruhi cuaca global, kata BoM.
Menurut BoM, El Niño terakhir adalah peristiwa sedang hingga kuat yang berkembang pada musim semi 2023 dan berlangsung hingga awal 2024.
Prakiraan Iklim ASEAN
Prakiraan iklim internasional memprediksi El Niño moderat kemungkinan akan berkembang selama Juni-Juli- Agustus (JJA) 2026.
Demikian Prakiraan Iklim ASEAN (ASEAN Climate Outlook) – Buletin Konsensus untuk Juni hingga Agustus 2026 yang diterbitkan oleh Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), Rabu (10/6).
Setelah Juni-Juli- Agustus, sebagian besar model memprediksi penguatan berkelanjutan menjadi El Niño yang kuat hingga sangat kuat, sementara sisanya memprediksi hanya kondisi El Niño moderat yang akan bertahan hingga akhir tahun.
Dalam prakiraan iklim tersebut disebutkan jika El Niño yang sangat kuat terjadi, ini tidak selalu menunjukkan dampak yang lebih besar pada iklim Asia Tenggara, akan tetapi lebih menunjukkan bahwa dampak tipikal dari peristiwa El Niño lebih mungkin terjadi.
Laporan WMO
Laporan terbaru Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebutkan dipicu oleh suhu air laut yang luar biasa hangat di Pasifik tropis, kondisi El Niño sedang berkembang dan akan memengaruhi pola suhu dan curah hujan global, meningkatkan risiko cuaca ekstrem selama beberapa bulan mendatang.Informasi Pasar Kelautan
Pesan utama yang disampaikan (1) suhu air laut yang hangat memicu perkembangan El Niño. (2) El Niño biasanya meningkatkan suhu global dan mendorong pola cuaca dan curah hujan yang lebih ekstrem.
(3) Suhu di atas rata-rata diperkirakan terjadi hampir di mana-mana untuk bulan Juni hingga Agustus. (4) Prakiraan cuaca tingkat lanjut membantu dalam persiapan untuk melindungi nyawa dan mata pencaharian. (5) Saatnya untuk pengambilan keputusan, perencanaan, dan kesiapan yang tepat sekarang juga
Dalam pembaruan El Niño/La Niña WMO menunjukkan kemungkinan 80% terjadinya peristiwa El Niño selama Juni–Agustus 2026. Probabilitas untuk hal ini berlanjut hingga setidaknya November mendekati atau di atas 90%.
Meskipun masih ada beberapa ketidakpastian mengenai kekuatan dan waktu puncak El Niño, sebagian besar model prakiraan menunjukkan bahwa El Niño akan setidaknya moderat – dan mungkin kuat.
