Darilaut – Alfred Russel Wallace tak hanya mencatat dan membukukan perjalanan panjang di Kepulauan Nusantara. Naturalis asal Inggris ini juga mengamati dan menganjurkan adanya observasi dan ekspedisi laut dalam Indonesia.
Annayu Maharini dari University of Sydney mengatakan perkembangan pemikiran oseanografi abad ke-19 yang menjadi fondasi penelitian laut dalam modern, termasuk di Indonesia.
Menurut Annayu, pada masa itu, berkembang Azoic Hypothesis, yaitu anggapan bahwa kehidupan tidak dapat ditemukan pada kedalaman lebih dari sekitar 550 meter.
Pandangan tersebut muncul karena keterbatasan teknologi pengamatan dan metode pengambilan sampel pada masa itu.
Perkembangan teknologi sounding kemudian memungkinkan pengukuran kedalaman laut secara lebih akurat. Puncaknya terjadi melalui Ekspedisi HMS Challenger pada 1872–1876 yang berhasil mengumpulkan data mengenai topografi dasar laut, temperatur, sirkulasi massa air, serta berbagai spesimen organisme laut dalam.
Temuan tersebut membuktikan bahwa laut dalam tetap menopang kehidupan dan menjadi tonggak lahirnya oseanografi modern.
Indonesia memiliki posisi penting dalam sejarah penelitian laut dalam dunia. Atas rekomendasi Alfred Russel Wallace, tim HMS Challenger melakukan pengamatan di perairan Hindia Belanda dan menemukan karakteristik unik laut dalam Indonesia, termasuk pola sirkulasi massa air di Laut Sulawesi yang memunculkan berbagai pertanyaan ilmiah mengenai hubungan antara kondisi fisik laut dan persebaran organisme.



