Gelombang Kelvin di Pasifik Khatulistiwa Bagai Detak Jantung El Niño

Gelombang Kelvin. GAMBAR: NOAA

Darilaut – Gelombang Kelvin memiliki struktur yang lebar dan datar. Gelombang ini tidak pecah di pantai seperti gelombang pada umumnya.

Gelombang air hangat ini bergerak lambat dan relatif datar, membentang sepanjang ribuan mil melintasi Samudra Pasifik.

Gelombang ini memengaruhi lapisan atas samudra di wilayah ekuator—di antara permukaan laut dan termoklin yang lebih dalam. Termoklin adalah lapisan transisi di bawah permukaan tempat suhu air menjadi lebih dingin, pada kedalaman antara 660 hingga 3.300 kaki (sekitar 200 hingga 1.000 meter.

National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) atau Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS menjelaskan bahwa gelombang Kelvin bergerak perlahan—dengan kecepatan sekitar lima hingga sepuluh mil per jam—dan membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga bulan untuk melintasi Samudra Pasifik sebelum mencapai pesisir Amerika Selatan.

Geombang Kelvin seperti jalan raya bawah air. Jalur ini memindahkan panas dari barat ke timur melintasi Pasifik. Air hangat memanaskan udara tepat di atasnya sehingga membuatnya naik.

NASA (National Aeronautics and Space Administration) menguraikan salah satu petunjuk pertama muncul dalam citra satelit pada bulan Januari 2026, ketika gelombang air hangat yang disebut gelombang Kelvin terlihat di dekat Mikronesia di Pasifik barat.

Perubahan tekanan udara melemahkan atau bahkan membalikkan arah angin pasat yang biasanya bertiup ke arah berlawanan, dari Amerika menuju Asia, menyebabkan permukaan air laut di Pasifik bagian timur semakin meningkat, dan perairan menjadi semakin panas. Reaksi berantai ini menandakan dimulainya El Niño.

Pada awal April 2026, gelombang Kelvin tersebut telah mencapai Pasifik bagian timur, dan suhu permukaan laut mulai menghangat. Volume air hangat meningkat, menaikkan permukaan air laut di beberapa daerah sebanyak 1 hingga 1,3 kaki (30 hingga 40 sentimeter).

GAMBAR: Scientific Visualization Studio NASA

Air yang lebih tinggi dari biasanya terlihat mengalir menuju Amerika Selatan kemudian bergerak ke pantai menuju California. Permukaan laut yang enam hingga delapan inci (15 hingga 20 sentimeter) lebih rendah dari biasanya terlihat di sekitar Indonesia dan Australia bagian utara.

“Gelombang Kelvin seperti detak jantung El Niño,” kata Josh Willis, seperti dikutip dari tulisan Erica McNamee, dengan judul “NASA Satellites Observe Historic 2026 El Niño”.

Willis, ilmuwan proyek untuk misi permukaan laut di Jet Propulsion Laboratory NASA di California Selatan mengatakan bahwa satelit permukaan laut memungkinkan untuk mengintip ke dalam lautan dan mengamati setiap detaknya.

Titik Awal Siklus El Niño

Kawasan Pasifik Khatulistiwa bagian barat masih jarang diteliti. Padahal kawasan di utara Papua, Indonesia, ini sebagai titik awal siklus El Nino.

Dalam diskusi yang digelar oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN),  Daniel Rudnick dari Scripps Institution of Oceanography, mengatakan kawasan tersebut memegang peran kunci penting dalam memahami titik awal siklus El Nino.

Berdasarkan pengalaman riset global selama 20 tahun di berbagai wilayah seperti Laut Solomon, Palau, hingga Kepulauan Galapagos, Rudnick menjelaskan bahwa arus utama yang menjadi pemicu terciptanya El Nino-Southern Oscillation (ENSO) ternyata bermula dari perairan sebelah utara Papua.

GAMBAR: BRIN

“Titik awal arus penting tersebut berada di sebelah utara Indonesia, yang menjadikan perairan utara Papua sangat krusial untuk dipelajari,” Rudnick seperti dikutip dari Brin.go.id.

“Saya ingin menyarankan agar kolaborasi dalam pekerjaan glider di wilayah ini dapat menjadi fondasi bagi kemitraan di masa depan antara institusi-institusi kita dan negara-negara kita.”

Garis Khatulistiwa Pasifik Barat

Gelombang Kelvin dapat terbentuk di sepanjang garis ekuator atau khatulistiwa di Samudra Pasifik bagian barat, bergerak dari barat ke timur sebagai respons terhadap melemahnya angin pasat akibat fenomena El Niño.

Menurut NOAA, saat air mengalir ke arah timur di belahan bumi utara, gaya Coriolis (yang timbul akibat rotasi Bumi) mendorong air ke arah kanan (menuju ekuator); sementara di belahan bumi selatan, gaya tersebut mendorong air ke arah kiri (juga menuju ekuator).

Ketika mencapai pesisir Amerika Selatan di sepanjang garis ekuator, gelombang ini terpecah: sebagian bergerak ke selatan menuju kutub, dan sebagian lainnya bergerak ke utara di sepanjang pesisir barat benua Amerika.

Gelombang Kelvin yang bergerak menyusuri garis pantai disebut sebagai gelombang yang “terperangkap di pesisir” (coastally trapped) karena tertahan di dekat pantai akibat efek Coriolis. Selama peristiwa El Niño, beberapa gelombang Kelvin dapat terbentuk, sering kali berupa rangkaian gelombang susulan yang terjadi selama kurun waktu beberapa bulan, kata NOAA.

Gelombang Kelvin dapat menyebabkan suhu air permukaan menjadi lebih hangat dari biasanya karena gelombang ini mendorong air yang lebih dingin di lapisan termoklin ke kedalaman yang lebih rendah. Gelombang ini juga meningkatkan permukaan laut untuk sementara—sekitar 6 hingga 12 inci (15 hingga 30 cm) atau lebih—karena volume air hangat yang lebih besar menempati ruang yang lebih luas dibandingkan air yang lebih dingin.

Hingga Oktober 2026, El Niño terus menguat. Kemungkinan terjadinya El Niño kategori kuat hingga sangat kuat hingga periode Januari-Maret 2027. Menurut Climate Prediction Centre (CPC) NOAA, peluang ini tetap di atas 83%. (VM)

Exit mobile version