Jakarta – Gelombang tinggi tsunami di Selat Sunda diduga dipicu akibat aktivitas gunung Api Anak Krakatau. Namun, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) masih akan melakukan verifikasi lanjutan mengenai fenomena ini.
BMKG telah memperbarui informasi dengan menyebutkan,”UPDATE: Gelombang pasang di Anyer dan sekitarnya memang bukan tsunami karena aktivitas gempa tektonik. Namun hal tersebut DIDUGA tsunami akibat aktivitas gunung Anak Krakatau, setelah mendapat data dari Badan Geologi. #BMKG akan melakukan verifikasi lanjutan mengenai fenomena ini.”
Untuk kicauan di Twitter yang telah dihapus di akun @infoBMKG ada Sedikit ralat tweet sebelumnya, karena ada emoticon yang kurang pas dan ada penegasan pernyataan.
“#BMKG tidak mencatat adanya gempa yang menyebabkan tsunami malam ini. Yang terjadi di Anyer dan sekitarnya bukan tsunami karena aktivitas seismik gempa. … Tetap tenang . . Sedikit ralat tweet sebelumnya, karena ada emoticon yang kurang pas dan ada penegasan pernyataan.”
Hasil pengamatan dari pos Pasauran Gunung Api Krakatau sepanjang Sabtu (22/12) tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau berada pada tingkat level II (Waspada). Badan Geologi Kementerian ESDM merekomendasikan agar masyarakat maupun wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 kilometer dari kawah.
Kejadian gelombang tinggi ini berlangsung secara tiba-tiba, menerjang permukiman dan hotel di pantai.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, penyebab tsunami di di Pandeglang dan Lampung Selatan kemungkinan kombinasi dari longsor bawah laut akibat pengaruh erupsi Gunung Anak Krakatau dan gelombang pasang saat purnama. BMKG masih meneliti lebih jauh untuk memastikan penyebab tsunami.*
