Darilaut – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali memperingati Hari Lebah Sedunia atau ’World Bee Day’.
Sebagai pengakuan atas peran penting generasi muda dalam mengatasi tantangan yang dihadapi lebah dan penyerbuk lainnya, hari lebah tahun ini berfokus pada tema “Bee engaged with Youth.”
Tema ini menyoroti pentingnya melibatkan peran generasi muda dalam upaya konservasi lebah dan penyerbuk, serta mengakui mereka sebagai penjaga lingkungan kita di masa depan.
PBB telah menetapkan tanggal 20 Mei sebagai Hari Lebah Sedunia. Hal ini untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya lebah sebagai penyerbuk, ancaman yang dihadapi, serta kontribusinya terhadap pembangunan berkelanjutan.
Kampanye tahun ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran di kalangan pemuda dan pemangku kepentingan lainnya tentang peran penting lebah dan penyerbuk lainnya di bidang pertanian, keseimbangan ekologi, dan pelestarian keanekaragaman hayati.
Melansir UN News, dengan melibatkan generasi muda dalam kegiatan peternakan lebah, inisiatif pendidikan, dan upaya advokasi, kita dapat menginspirasi generasi baru pemimpin lingkungan dan memberdayakan mereka untuk memberikan dampak positif bagi dunia.
Menumbuhkan sistem pertanian yang lebih beragam dan mengurangi ketergantungan pada bahan kimia beracun dapat memfasilitasi peningkatan penyerbukan.
Menurut PBB, pendekatan ini dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas pangan, sehingga memberikan manfaat bagi populasi manusia dan ekosistem.
Melindungi lebah dan penyerbuk lainnya, akan memberikan kontribusi signifikan dalam memecahkan masalah terkait pasokan pangan global dan menghilangkan kelaparan di negara-negara berkembang.
Kita semua bergantung pada penyerbuk, oleh karena itu, penting untuk memantau penurunan populasi dan menghentikan hilangnya keanekaragaman hayati.
Lebah dan penyerbuk lainnya, seperti kupu-kupu, kelelawar, dan burung kolibri, semakin terancam oleh aktivitas manusia.
Namun, penyerbukan adalah proses mendasar bagi kelangsungan ekosistem kita. Hampir 90% spesies tumbuhan berbunga liar di dunia, seluruhnya atau setidaknya sebagian, bergantung pada penyerbukan hewan, begitu juga dengan lebih dari 75% tanaman pangan dunia dan 35% lahan pertanian global.
Penyerbuk tidak hanya berkontribusi langsung terhadap ketahanan pangan, namun juga berperan penting dalam melestarikan keanekaragaman hayati.
Tingkat kepunahan spesies saat ini 100 hingga 1.000 kali lebih tinggi dari biasanya akibat dampak manusia.
Hampir 35 persen penyerbuk invertebrata, khususnya lebah dan kupu-kupu, dan sekitar 17 persen penyerbuk vertebrata, seperti kelelawar, menghadapi kepunahan secara global.
Jika tren ini terus berlanjut, tanaman bergizi, seperti buah-buahan, kacang-kacangan, dan banyak tanaman sayuran akan semakin tergantikan oleh tanaman pokok seperti beras, jagung, dan kentang, yang pada akhirnya akan mengakibatkan pola makan yang tidak seimbang.
Praktik pertanian yang intensif, perubahan penggunaan lahan, penanaman tunggal, pestisida, dan suhu yang lebih tinggi yang terkait dengan perubahan iklim semuanya menimbulkan masalah bagi populasi lebah dan, lebih jauh lagi, kualitas makanan yang kita tanam.
Menyadari dimensi krisis penyerbukan dan kaitannya dengan keanekaragaman hayati dan penghidupan manusia, Konvensi Keanekaragaman Hayati telah menjadikan konservasi dan pemanfaatan penyerbuk secara berkelanjutan sebagai prioritas.
