Gerhana Bulan Total di Lokasi Hiu Paus Botubarani

Hasil pengambilan gambar Gerhana bulan total perigee dari lokasi pantai Botubarani, Bone Bolango, Gorontalo, menggunakan kamera pada telepon genggam dengan alat bantu teleskop, Rabu (26/5). FOTO: ASWANDI NOER

Darilaut – Visibiltas gerhana bulan total di lokasi sekitar perairan hiu paus Botubarani, Rabu (26/5) mulai dapat diamati pukul 18.14 Wita.

Secara umum fase U1 atau saat piringan Bulan mulai memasuki umbra Bumi, gerhana sebagian mulai terlihat dari pantai Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, pukul 18.14 – 18.16 Wita.

Hal ini karena saat terbitnya bulan masih terhalang dengan barisan perbukitan atau pegunungan.

Fase U1 di Bone Bolango dan Kota Gorontalo pada pukul 17.44.38 Wita. Berdasarkan data visibilitas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk wilayah Gorontalo, bulan terbit pada pukul 17.42.44 Wita.

Saat P1 atau piringan Bulan mulai memasuki penumbra Bumi atau gerhana mulai, tidak teramati di Gorontalo.

Dengan demikian, pengamat dapat melihat visibiltas gerhana bulan total mulai fase U1.

Selanjutnya, untuk fase U2 saat seluruh piringan Bulan mulai tertutupi oleh umbra Bumi pukul 19.09.21 Wita. Pada fase ini Gerhana total mulai.

Puncak gerhana di wilayah Provinsi Gorontalo pada pukul 19.18.43 Wita. Puncak Gerhana ini saat piringan Bulan tergerhanai paling maksimum.

Fase U3, saat piringan Bulan mulai meninggalkan umbra Bumi atau Gerhana total berakhir di Gorontalo pukul 19.28.05 Wita. Fase U4 pukul 20.52.48 Wita, saat seluruh piringan Bulan terakhir kali meninggalkan umbra Bumi atau Gerhana sebagian berakhir.

Fase P4, saat seluruh piringan Bulan terakhir kali meninggalkan penumbra Bumi atau Gerhana berakhir pada pukul 21.51.14 Wita.

Pengamatan gerhana bulan total di pantai Botubarani berlangsung saat fase U1 hingga gerhana berakhir. Cuaca cerah sepanjang fase gerhana bulan total perigee tersebut.

Tim mahasiswa yang melakukan pengamatan gerhana bulan total di pantai Botubarani: Nurlaela, Aswandi Noer, Putri Patrisia, Lilis Hulopi (Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone Sulawesi Selatan), Nurlaila Amir dan Fajar (Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Negeri Gorontalo) dan Fahri Amar Universitas Muslim Indonesia Makassar.

Hasil pengambilan gambar Gerhana bulan total perigee dari lokasi pantai Botubarani, Bone Bolango, Gorontalo, menggunakan kamera pada telepon genggam dengan alat bantu teleskop, Rabu (26/5). FOTO: NURLAELA

Para mahasiswa melakukan pengamatan dengan menggunakan 1 teleskop dan 2 teropong binokular.

Tim pengamat Gerhana bulan total ini mengabadikan momen gerhana bulan total perigee menggunakan kamera yang ada pada telepon genggam (handphone) dengan alat bantu teleskop maupun teropong binokular.

Gerhana ini dapat disebut sebagai gerhana bulan total perigee atau dikenal pula sebagai Super Blood Moon, mengingat saat fase totalitas Bulan terlihat kemerahan.

Gerhana bulan total perige sebelumnya yang teramati di Indonesia terjadi pada 31 Januari 2018. Adapun gerhana bulan total perige yang akan datang yang dapat diamati lagi di Indonesia akan terjadi pada 8 Oktober 2033.

Berdasarkan catatan BMKG terdapat 4 kali gerhana. Peristiwa Gerhana bulan terjadi 2 kali. Gerhana Bulan Total 26 Mei 2021 yang dapat diamati dari Indonesia dan Gerhana Bulan Sebagian pada 19 November 2021 yang juga dapat diamati dari Indonesia.

Tahun ini terdapat 2 kali gerhana matahari. Gerhana Matahari Cincin tanggal 10 Juni 2021 dan Gerhana Matahari Total pada 4 Desember 2021. Namun, 2 gerhana matahari tersebut tidak dapat diamati dari Indonesia.

Exit mobile version