Gunung Anak Krakatau Meletus Pagi Siang dan Sore

Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. FOTO: ESDM

Darilaut – Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan, Provinsi Lampung, Selat Sunda, meletus tiga kali pada Minggu (18/10) pagi, siang dan sore.

Sebelumnya, hasil evaluasi instrumental dan visual, Badan Geologi – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali menaikan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Status Siaga ini berlaku sejak Jumat 9 Oktober 2026, pukul 21.00 WIB.

Minggu Pagi

Pada Minggu (18/10) Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, mencatat tiga erupsi tersebut terjadi pukul 06.00.56 WIB, 12.59.19 WIB dan 17.34.09 WIB.

Hasil pengamatan visual Pusat Vulkanologi Minggu pagi, Gunung Anak Krakatau terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 5-50 meter dari puncak. Cuaca berawan, angin lemah ke arah barat laut.

Letusan Gunung Anak Krakatau Minggu (18/10) pagi. FOTO: PVMBG

Kegempaan tercatat 1 kali gempa Tremor Menerus dengan amplitudo 1-10 mm, dominan 5 mm.

Minggu Siang

Letusan Minggu siang, teramati asap kawah utama berwarna putih dan hitam dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 5-500 meter dari puncak. Cuaca berawan, angin lemah ke arah utara dan barat laut.

Tercatat pada Minggu siang 5 kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 48-56 mm, dan lama gempa 23-674 detik. Kemudian, 6 kali gempa embusan dengan amplitudo 13-48 mm, dan lama gempa 20-49 detik.

Terjadi 12 kali gempa hybrid/fase banyak dengan amplitudo 4-30 mm, S-P tidak teramati dan lama gempa 5-15 detik.

Pusat Vulkanologi juga mencatat 3 kali gempa Vulkanik Dangkal dengan amplitudo 9-42 mm, dan lama gempa 7-10 detik. Sebanyak 5 kali gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 41-55 mm, S-P 1.7-2.4 detik dan lama gempa 11-23 detik dan 1 kali gempa Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5-15 mm, dominan 2 mm.

Letusan Gunung Anak Krakatau Minggu (18/10) siang. FOTO: PVMBG

Minggu Sore

Letusan Minggu sore teramati asap kawah utama berwarna putih, kelabu dan hitam dengan intensitas sedang hingga tebal tinggi sekitar 50-500 meter dari puncak. Cuaca berawan, angin lemah hingga sedang ke arah utara dan barat laut.

Hasil pengamatan kegempaan Pusat Vulkanologi, 4 kali gempa Letusan/Erupsi dengan amplitudo 43-56 mm, dan lama gempa 24-41 detik. 1 kali gempa Hembusan dengan amplitudo 14 mm, dan lama gempa 25 detik. 6 kali gempa Low Frequency dengan amplitudo 10-44 mm, dan lama gempa 5-11 detik.

Letusan Gunung Anak Krakatau Minggu (18/10) sore. FOTO: PVMBG

Sebanyak 40 kali gempa hybrid/fase banyak dengan amplitudo 4-45 mm, S-P tidak teramati dan lama gempa 5-19 detik dan 17 kali gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo 8-48 mm, dan lama gempa 5-17 detik.

Selain itu, 2 kali gempa vulkanik dalam dengan amplitudo 51-58 mm, S-P 1.4-3.2 detik dan lama gempa 13-27 detik serta 1 kali gempa Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5-15 mm, dominan 2 mm.

Pusat Vulkanologi merekomendasikan, pertama, masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau dan pengunjung/ wisatawan/ pendaki tidak diperbolehkan memasuki dan melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 5 km dari pusat erupsi Anak Krakatau.

Masyarakat di sekitar Gunungapi Anak Krakatau dan pengunjung/ wisatawan tidak diperbolehkan memasuki dan melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 1 km dari pulau baru di sektor barat laut dan tenggara Gunungapi Anak Krakatau.

Meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya lontaran batu pijar, hujan abu lebat, aliran lava, dan potensi erupsi sekunder yang ditimbulkan oleh kontak panas lava, baik dengan air laut maupun air hujan dalam radius 5 km dari pusat erupsi Anak Krakatau.

Perubahan Bentuk Anak Krakatau

Aliran lava telah mengubah bentuk Gunung Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda, antara Pulau Jawa dan Sumatra.

Citra Copernicus Sentinel-2 menampilkan perubahan bentuk Gunung Anak Krakatau sebelum dan setelah letusan menerus 25 Jam antara tanggal 4 dan 6 September 2026.

Letusan tersebut menghasilkan aliran lava yang mengarah ke barat laut, barat, dan barat daya dari lubang kawah yang aktif. Material vulkanik baru tersebut mengubah bentuk sektor barat pulau.

Perubahan bentuk Gunung Anak Krakatau. Citra Copernicus Sentinel-2 seperti yang ada di gambar ini, diambil pada tanggal 8 Agustus (kiri) dan 20 September 2026 (kanan). GAMBAR: European Union, Copernicus Sentinel-2 imagery

Citra Copernicus Sentinel-2 seperti yang ada di gambar, diambil pada tanggal 8 Agustus (kiri) dan 20 September 2026 (kanan). Citra satelit ini memperlihatkan kondisi pulau sebelum dan sesudah letusan.

Citra pertama 8 Agustus, endapan vulkanik berwarna cokelat muda menutupi sebagian besar badan kerucut gunung api.

Citra kedua 20 September, endapan lava luas berwarna merah kecokelatan gelap membentang di sektor selatan dan barat.

Selain itu, terdapat material baru di sepanjang garis pantai telah menambah luas daratan pulau tersebut sekitar 0,2 km².

Data Copernicus Sentinel-2 mendukung pemantauan pulau vulkanik dan perubahan permukaan yang cepat, serta membantu memetakan sebaran endapan lava, menilai perubahan bentuk lahan vulkanik, dan memantau perkembangan letusan yang sedang berlangsung.

Perluasan Gunung Anak Krakatau

Analisis awal Badan Geologi perluasan Gunung Anak Krakatau setelah erupsi menerus dengan luas 32.8 hektare. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Dr. Siti Sumilah Rita Susilawati, mengatakan, berdasarkan citra satelit Sentinel yang telah dievaluasi Badan Geologi, terlihat penambahan daratan pada tubuh Gunung Anak Krakatau di sektor barat laut – barat – barat daya.

Hal ini sebagai akibat pengendapan material piroklastik dan aliran lava hasil erupsi menerus tanggal 4 – 6 September 2026.

Berdasarkan Citra Sentinel juga terdekteksi adanya “gumuk pulau kecil” di sebelah barat laut dan tenggara dari tubuh Gunungapi Anak Krakatau.

Exit mobile version