Gunung Ibu di Halmahera Barat 13 Kali Meletus

Erupsi Gunung api Ibu di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, pada Kamis (16/1). FOTO: PVMBG

Darilaut – Gunung api Ibu di Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara, mengalami 13 kali letusan pada Jumat (17/1). Letusan dengan tinggi 300-800 meter (m) dan warna asap kelabu, kata Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Jumat.

Terhitung sejak Rabu (15/1) PVMBG telah meningkatkan status Gunung api lbu menjadi level IV (Awas).

Pengamatan visual PVMBG pada 17 Januari, gunung api tersebut terlihat jelas hingga tertutup kabut.

”Asap kawah bertekanan lemah hingga sedang teramati berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis hingga sedang dan tinggi 100-200 m di atas puncak kawah,” kata PVMBG.

Gunung api Ibu merupakan gunungapi tipe strato dan memiliki tinggi puncak 1.340 m di atas permukaan laut, pada koordinat 1° 29’ LU dan 127° 38′ BT.

Secara administratif gunung api ini masuk dalam wilayah Kecamatan Ibu Kabupaten Halmahera Barat.

Gunungapi Ibu diamati secara visual dan instrumental dari Pos Pengamatan Gunungapi (PGA) yang berlokasi di Desa Gam Ici, Kecamatan Ibu.

PVMBG menjelaskan dalam sejarah aktivitas vulkaniknya, letusan Gunung Ibu tercatat sejak tahun 1911 dan mulai tahun 1998 muncul sumbat lava yang kemudian tumbuh menjadi kubah lava.

Seiring dengan pertumbuhan kubah lava, terjadi erupsi erupsi dengan intensitas lemah hingga sedang. Sejak tahun 2020 – 2023 frekuensi erupsinya semakin berkurang jumlahnya setiap hari, namun kolom letusan cenderung bertambah tinggi.

Kondisi ini berhubungan dengan meningkatnya gempa-gempa Vulkanik Dalam dan Gempa Vulkanik Dangkal.

Saat ini kubah lava di Gunung Ibu telah melampaui dinding kawah sehingga mengakibatkan terjadinya guguran lava ke arah utara dan barat laut.

PVMBG merekomendasikan, masyarakat di sekitar Gunung Ibu dan pengunjung (wisatawan) agar tidak beraktivitas, mendaki dan mendekati Gunung Ibu di dalam radius 5 km dan sektoral 6 km dari arah bukaan kawah di bagian utara dari kawah aktif Gunung Ibu.

Jika terjadi hujan abu, masyarakat yang beraktivitas di luar rumah disarankan untuk menggunakan pelindung hidung, mulut (masker) dan mata (kacamata).

Penduduk yang berada di luar radius 5 km dan berada di luar sektoral 6 km harus meningkatkan kewaspadaan dengan tetap mematuhi arahan dari Pemerintah Daerah, kata PVMBG.

Masyarakat di sekitar Gunung Ibu diharap mewaspadai potensi lahar di sungai-sungai yang berhulu di bagian puncak Gunung Ibu, terutama bila terjadi hujan lebat.

Setelah status Awas untuk Gunung Ibu, Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 33/KPTS/I/2025 tentang ‘Penetapan Status Tanggap Darurat Bencana Erupsi Gunung Api Ibu di Kabupaten Halmahera Barat’.

Keputusan ini berlaku selama 14 hari terhitung sejak tanggal 15 Januari 2025 hingga 28 Januari 2025.

Guna memperlancar koordinasi penanganan darurat ini, Pemerintah membentuk Pos Komando yang diketuai oleh Dandim 1501/Ternate. Pos Komando terletak di kantor Bupati Halmahera Barat.

Satgas Penanggulangan Bencana Erupsi Gunung Ibu pada hari Jumat akan melaksanakan evakuasi warga di lima desa di Kecamatan Tabaru antara lain: Desa Sosangaji, Desa Tuguis, Desa Togoreba Sungi, Desa Borona, dan Desa Todoke.

Berdasarkan rekomendasi dari PVMBG desa-desa ini berpotensi risiko ancaman lahar dan lava pijar. Proses evakuasi warga nantinya akan dibantu oleh personil TNI setempat.

Sebelumnya pada Kamis (16/1), petugas telah mengevakuasi warga desa Sangaji Nyeku ke titik pengungsian di Gereja Tongotesungi, Desa Akesibu, Kecamatan Ibu.

Desa Akesibu yang terdekat dari puncak, dengan jarak 3,7 km. Total sementara warga yang mengungsi hingga hari ini sebanyak 221 jiwa.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau warga khususnya warga di sekitar Gunung Ibu untuk tetap tenang dan tidak terpancing isu-isu tentang erupsi Gunung Ibu.

Mengingat saat ini memasuki periode panen pala di Halmahera Barat, BNPB mengimbau para petani pala di sekitar desa terdampak untuk melakukan aktivitas di kebun secara berkelompok pada siang hari dan kembali ke lokasi pengungsian pada malam harinya.

Exit mobile version