Gunungapi Anak Krakatau Erupsi, Ini Potensi Bahaya

Aktivitas Gunungapi Anak Krakatau Jumat 10 April 2020, pukul 23.16 WIB. FOTO: VSI.ESDM.GO.ID

Darilaut – Gunungapi Anak Krakatau mengalami erupsi pada Jumat (10/4) pukul 22:35 WIB. Erupsi ini diduga akibat energi yang relatif tidak terlalu besar.

Potensi bahaya dari aktivitas Gunungapi Anak Krakatau saat ini adalah lontaran material lava, aliran lava dan hujan abu lebat di sekitar kawah dalam radius 2 kilo meter dari kawah aktif. Sementara itu, hujan abu yang lebih tipis dapat terpapar di area yang lebih jauh bergantung pada arah dan kecepatan angin.

Aktivitas vulkanik berupa erupsi tipe Strombolian saat ini, lontaran material pijar hanya tersebar di sekitar kawah, yang masih dalam batas kawasan rawan bencana yang direkomendasikan. Erupsi menerus berpotensi terjadi, namun tidak terdeteksi adanya gejala vulkanik yang menuju kepada intensitas erupsi lebih besar.

Pasca penurunan tingkat aktivitas G. Anak Krakatau dari Siaga (Level III) menjadi Waspada (Level II) pada 25 Maret 2019, aktivitas vulkanik G. Anak Krakatau berfluktuasi. Selama Januari hingga Maret 2020 aktivitas erupsi masih terjadi. Erupsi terjadi tidak menerus.

Berikut ini siaran pers aktivitas Gunungapi Anak Krakatau yang dikeluarkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Sabtu (11/4):

Pertama, hasil pengamatan visual, selama Januari 2020 terjadi empat kali erupsi pada tanggal 1,7 dan 15. Menghasilkan kolom erupsi berwarna putih kelabu dengan tinggi maksimum 500 meter dari atas puncak. Pada 6 hingga 11 Februari 2020 terjadi rangkaian erupsi. Menghasilkan kolom erupsi berwarna putih kelabu tebal dengan ketinggian maksimum 1000 meter dari atas puncak.

Selama Maret 2020 erupsi terjadi dua kali erupsi pada tanggal 18 Maret 2020, menghasilkan kolom erupsi berwarna putih kelabu setinggi kurang lebih 300 meter dari atas puncak. Saat tidak terjadi erupsi, teramati hembusan asap berwarna putih tipis dengan tinggi maksimum 150 meter dari atas puncak.

Pada Jumat 10 April 2020, terjadi dua kali erupsi. Menghasilkan kolom erupsi berwarna kelabu tebal setinggi kurang lebih 500 meter dari atas puncak, diikuti dengan erupsi menerus tipe strombolian. Tidak terdengar suara gemuruh atau dentuman akibat erupsi.

Kedua, menjelang dan selama erupsi, gempa-gempa vulkanik masih terekam dengan jumlah yang belum signifikan, menunjukkan masih terjadinya suplai magma ke kedalaman yang lebih dangkal.

Ketiga, pengamatan deformasi dengan tiltmeter berfluktuasi dan menunjukkan gejala kenaikkan yang tidak signifikan sejak 5 April 2020 hingga kejadian erupsi pada 10 April 2020 pukul 22:35 WIB, diduga akibat energi yang relatif tidak terlalu besar.

Hasil analisis, data kegempaan dan deformasi menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik G. Anak Krakatau masih berfluktuasi. Suplai fluida dari kedalaman masih terjadi. Jenis fluida pada rangkaian erupsi Januari hingga Maret 2020 diduga didominasi oleh gas/uap air. Erupsi pada 10 April 2020 material batuan pijar sudah terbawa ke permukaan dengan intensitas yang belum signifikan, jauh lebih kecil dibandingkan rangkaian erupsi pada periode Desember 2018 – Januari 2019.

Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental serta potensi bahaya G. Anak Krakatau selama Januari hingga 10 April 2020, tidak ada peningkatan ancaman. Tingkat aktivitas vulkanik G. Anak Krakatau masih tetap pada Level II (Waspada).

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi merekomendasikan bagi masyarakat, pengunjung dan wisatawan tidak beraktivitas dalam radius 2 Kilo meter dari kawah/puncak G. Anak Krakatau atau di sekitar kepulauan Anak Krakatau. Untuk area wisata Pantai Carita, Anyer, Pandeglang dan sekitarnya, serta wilaya Lampung Selatan masih aman dari ancaman bahaya aktivitas G. Anak Krakatau.*

Exit mobile version