Darilaut – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), António Guterres, menyoroti bentuk perdagangan manusia yang kini berkembang paling cepat: kerja paksa dalam penipuan daring (online scamming).
Berbicara untuk Hari Anti Perdagangan Manusia Sedunia (World Day Against Trafficking in Persons), yang diperingati tanggal 30 Juli, setiap tahunnya, Guterres memperingatkan di seluruh dunia, banyak orang terpikat oleh janji palsu tentang pekerjaan yang layak.
Namun pada akhirnya, ”mereka mendapati diri mereka terjebak oleh jaringan kriminal dan dipaksa untuk melakukan penipuan terhadap orang lain,” ujarnya.
Guterres mengatakan operasi penipuan online ini merugikan jutaan orang, serta menghasilkan keuntungan gelap yang sangat besar bagi kejahatan terorganisasi lintas negara. Teknologi baru yang canggih, termasuk kecerdasan buatan (AI), turut membantu para penipu untuk memperluas aksinya dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.
Ancaman yang terus meningkat ini menuntut tanggapan global yang bersatu — sebuah langkah yang menyatukan badan intelijen, penegak hukum, dan pengawas keuangan untuk melacak jaringan kejahatan tersebut dan memutus sumber dana para pelaku, kata Guterres.
Pada tahun 2024, Negara-Negara Anggota telah mengadopsi Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Menentang Kejahatan Siber, sebuah kesepakatan bersejarah untuk memperkuat kerja sama lintas batas negara.
”Saya menyerukan kepada seluruh pemerintah di seluruh dunia untuk meratifikasi dan mengesahkan Konvensi tersebut,” ujar Guterres, seraya menambahkan menindak tegas korupsi yang memberi celah bagi para penjahat, dan memastikan perusahaan-perusahaan teknologi mengendalikan penyalahgunaan di platform mereka.
Pada saat yang sama, ”kita harus mendukung para penyintas dari pusat-pusat penipuan tersebut agar mereka dapat pulih dan menata kembali kehidupan mereka,” ujarnya.
Guterres menyampaikan pesan bahwa perdagangan manusia dalam segala bentuknya merupakan pelanggaran berat terhadap Hak Asasi Manusia (HAM). Dengan bekerja sama, kita dapat mengakhiri eksploitasi ini untuk selamanya.
Terperangkap
Tema Hari Anti Perdagangan Manusia Sedunia tahun ini, “Terperangkap di Balik Penipuan,” menyoroti perdagangan manusia untuk kejahatan paksa dalam operasi penipuan daring.
Kampanye Organisasi Internasional untuk Migrasi PBB (IOM) menyerukan pengakuan yang lebih besar terhadap orang-orang yang dieksploitasi di balik penipuan daring dan perlindungan yang lebih kuat bagi para korban.
Menurut IOM, di seluruh dunia, orang-orang ditipu oleh tawaran pekerjaan palsu, diangkut melintasi perbatasan, dan terperangkap di kompleks penipuan di mana mereka dipaksa untuk melakukan penipuan daring melalui paksaan, kekerasan, dan intimidasi.
Sejak 2022, IOM telah membantu hampir 3.000 korban yang diperdagangkan ke pusat-pusat penipuan daring di Asia Tenggara.
Namun banyak korban tetap tidak dikenali dan diperlakukan sebagai pelaku kejahatan daripada korban perdagangan manusia.
Untuk mengakhiri kejahatan ini membutuhkan identifikasi korban yang lebih kuat, bantuan yang berpusat pada korban, pemulangan dan reintegrasi yang aman, dan kerja sama lintas batas yang lebih erat untuk membongkar jaringan kriminal.
IOM dan para mitranya tetap berkomitmen untuk mencegah perdagangan manusia, melindungi para korban, dan memperkuat respons terhadap bentuk-bentuk eksploitasi yang muncul.
