Darilaut – Nelayan di perairan Boalamo, Provinsi Gorontalo, kembali melihat dan merekam kemunculan ikan Hiu Paus (Rhincodon typus).
Kemunculan Hiu Paus di Teluk Tomini ini seperti yang terekam melalui foto dan video pada Minggu 28 April 2024. Hiu Paus terlihat di Pulau Mohupomba dan Molopinggulo, Tilamuta, Boalemo.
Dalam setahun terakhir, sejumlah nelayan beberapa kali merekam kemunculan hiu paus di perairan Boalemo.
Akhir tahun 2023, ikan terbesar tersebut terlihat di Pasir Panjang Desa Olibu mengarah ke Bubaa, Paguyaman Pantai.
Kemunculan Hiu Paus juga tercatat tanggal 7 Maret 2024, di bawah temaram lampu perahu bagan nelayan Tilamuta yang sedang menangkap ikan di perairan Dulupi.
Kemunculan lainnya di pulau Monduli, Kecamatan Botumoito pada tanggal 10 Maret 2024. Hiu Paus terlihat oleh nelayan yang sedang memancing ikan.
Selanjutnya, tanggal 20 Maret 2024, ikan Hiu Paus terlihat di perairan antara pulau Lahengo dan Pantai Ratu.
Kemunculan Hiu Paus pada 28 April 2024 terlihat dan terekam nelayan Tilamuta pada pukul 00.53, 07.00, dan 09.00 Wita pagi.
“Kemunculan Hiu Paus di perairan Boalemo ini merupakan berkah bagi para nelayan di Tilamuta dan sekitarnya,” kata Roy Syawal, nelayan Tilamuta yang juga Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas Perikanan (Pokmaswas) Sahabat Bahari Tilamuta Boalemo.
Kepala Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Permana Yudiarso, menjelaskan, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan apabila tempat munculnya Hiu Paus di Perairan Boalemo akan dijadikan tempat wisata.
Pertama, Satuan Unit Pengelola Kawasan (SUOP) melibatkan banyak pihak termasuk pemerintah daerah, akademisi dan unsur Masyarakat untuk menyusun perencanaan dan pelaksanaan interaksi wisata di kawasan ini.
Kedua, penetapan regulasi pendukung misalnya perizinan dasar dan perizinan berusaha di Kawasan Konservasi Perairan (dengan KBLI 91039).
Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan.
Pertama, kemunculan Hiu Paus di perairan Boalemo wajib diketahui polanya, apakah hanya sesekali atau rutin. Kemunculan ini dikaji dengan baik oleh akademisi danpeneliti.
Kedua, apakah lokasi kemunculan layak dari sisi keselamatan, keamanan dan kenyamanan baik dari sisi pelaku wisata, operator wisata, pengelola bahkan ikan Hiu Paus tersebut.
Ketiga, ada prinsip aksesibilitas, amenitas (kenyamanan) dan atraksi yang jadi pertimbangan pengelola wisata dan pemerintah ditambah kondisi masyarakat dan lain-lain.
Permana mengatakan jika kajian sudah lengkap dan dilakukan baik oleh pemerintah, masyarakat, akademisi, maupun pelaku usaha, tinggal diarahkan agar disiapkan ekosistemnya. Misalnya penyiapan regulasi dan unit pengelola, penguatan kelompok masyarakat seperti sumber daya manusia ”Agar pelaku pengelola wisata patuh regulasi, penyiapan infrastruktur, pengelolaan perizinan dan pelibatan pelaku usaha agar layak,” kata Permana.
Peneliti Kelautan dan Wisata Bahari, Gusnar Lubis Ismail, perairan Boalemo dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata minat khusus hiu paus yang baru di Gorontalo.
Gusnar berharap agar Pokmaswas dan pemerintah daerah terus mengenalkan kepada masyarakat pesisir dan nelayan untuk menjaga dan melestarikan hiu paus yang muncul dan bermigrasi di perairan tersebut.
”Termasuk biota laut yang dilindungi lainnya seperti penyu, lumba-lumba, dugong, paus, dan lain-lain,” ujarnya.
Gusnar mengatakan semakin ramah masyarakat setempat dan nelayan menjaga kelestarian lingkungan biota laut yang langka dan dilindungi, maka tidak menutup kemungkinan lokasi-lokasi kemunculannya akan terus didatangi hiu paus.
Hal ini, menurut Gusnar, dapat dikembangkan lagi menjadi destinasi wisata minat khusus hiu paus yang baru di Gorontalo. (Sulis Dwi Fadjar Baeda)
