Indikator ENSO Cenderung Fase Hangat

Suhu panas. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Jumlah wilayah yang mengalami musim kemarau diprediksi mengalami peningkatan pada Dasarian III Juni 2026, dengan sifat hujan musim kemarau yang cenderung dibawah normal pada sebagian besar wilayah Pulau Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kondisi ini didukung oleh indikator El-Niño Southern Oscillation (ENSO) yang diprediksi menunjukkan kecenderungan fase hangat dengan intensitas moderate di Samudra Pasifik tropis bagian tengah hingga timur.

Hal ini ditandai dengan indeks Niño 3.4 sebesar +0,81 dan Southern-Oscillation Index (SOI) sebesar -24,3.

Kondisi tersebut mendukung pengurangan potensi hujan di sebagian wilayah Indonesia, kata Direktorat Meteorologi Publik BMKG.

Meski demikian, hujan tetap berpeluang terjadi karena dinamika atmosfer regional dan faktor lokal masih dapat mendukung pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah.

Untuk periode sepekan mendatang, kata BMKG, Madden-Jullian Oscillation (MJO) diperkirakan masih berada pada fase 1 atau di wilayah Western Hemisphere-Africa, sehingga pengaruh langsungnya terhadap Indonesia relatif tidak dominan.

Gelombang Kelvin diperkirakan bergerak melintasi sebagian Lampung, Samudra Hindia barat Lampung, Pulau Jawa, Laut Jawa, Selat Makasar bagian selatan, Kalimantan Tengah bagian selatan dan Kalimantan Selatan. Selain Itu, Gelombang Rossby Ekuatorial berpotensi aktif di Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Utara, Laut Maluku, Maluku Utara dan Laut Halmahera.

Di sisi lain, pola siklonik diprediksi terbentuk di Samudra Hindia barat Sumatra Barat, Selat Makassar, perairan barat Papua Barat Daya, Teluk Cendrawasih, dan Samudra Pasifik utara Papua, yang dapat memicu terbentuknya pola perlambatan dan pertemuan angin. Kondisi-kondisi ini berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah tersebut.

Selain faktor atmosfer regional, potensi pertumbuhan awan konvektif juga didukung oleh kondisi atmosfer yang masih cukup labil di beberapa wilayah.

Labilitas udara tersebut dapat memperkuat proses konveksi lokal, terutama di Sumatra Utara, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Banten, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, dan Papua.

Dengan adanya kombinasi antara aktivitas gelombang atmosfer, sirkulasi siklonik, serta dukungan labilitas udara lokal, peluang terjadinya hujan masih cukup signifikan di sejumlah wilayah Indonesia, khususnya bagian utara, dalam beberapa hari ke depan, kata BMKG.

Exit mobile version