Darilaut – Indonesia memiliki potensi begitu besar dalam bidang sains dan teknologi. Namun, tidak dipungkiri, banyak tantangan dalam pengembangan riset dan inovasi.
Dengan dukungan juga konsistensi pada sains, Indonesia akan maju menuju visi “Indonesia Emas 2045”
“Sains mendapat tempat, bangsa yang tidak memiliki sains yang maju dan kredibel akan sulit untuk bangkit,” kata Chairil Abdini, Sekretaris Jenderal Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Senin (20/5).
Chairil menjelaskan hal ini dalam diskusi publik dengan tema “Navigasi Inovasi: Membahas Peta Jalan Sains menuju Indonesia Emas 2045”. Diskusi ini berlangsung di Perpustakaan Nasional RI.
Acara ini bagian untuk menyosialisasikan informasi tentang seri artikel jurnal PNAS (Proceedings of the National Academy of Sciences) berjudul “Progress and Promise for Science in Indonesia.”
Dalam upaya mendorong pembahasan peta jalan sains menuju Indonesia Emas 2045, ilmuwan-ilmuwan dunia yang meneliti Indonesia menyoroti tantangan dan rekomendasi pembenahan sistem riset, sains, dan teknologi di Indonesia.
Sejumlah artikel mengulas berbagai perkembangan dan potensi sains di Indonesia, serta mengidentifikasi berbagai tantangan yang dihadapi oleh ekosistem riset dan teknologi yang ada di Indonesia.
Kegiatan diskusi publik tersebut turut dihadiri oleh Prof. Sangkot Marzuki sebagai Guest Editor PNAS special feature, Prof. Daniel Murdiyarso sebagai Ketua AIPI, Chairil Abdini dan Inaya Rakhmani sebagai anggota kehormatan ALMI.
Dalam diskusi itu membahas langkah-langkah strategis apa yang penting untuk diperhatikan dalam mendorong inovasi demi mendukung visi Indonesia Emas 2045.
Satu temuan pada artikel PNAS menguraikan tentang ‘Kombinasi DNA Lingkungan dan Survei Visual untuk Konservasi Terumbu Karang’. (Novita J. Kiraman)
