Darilaut – Bagian kedua dari laporan penilaian keenam (AR6) IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) keluar awal Maret ini.
Laporan sebanyak 3675 halaman tersebut menggabungkan data ilmiah dalam jumlah besar. Tetapi memberikan penekanan khusus pada dampak perubahan iklim dan cara-cara bagi umat manusia untuk beradaptasi.
Mengutip Maritime-executive.com (4/3) dengan margin yang besar, lautan lebih terkena dampak perubahan iklim dibandingkan dengan ekosistem lainnya.
Ada beberapa hal yang dapat diambil dari laporan mengenai ancaman perubahan iklim yang akan segera terjadi terhadap lautan dan ekosistem laut.
Pada abad ke-21, ekosistem laut dan pesisir diproyeksikan menghadapi kondisi yang tidak terlihat selama ribuan tahun.
Dengan meningkatnya suhu, gelombang panas laut cenderung menjadi lebih sering dan parah. Akan ada peningkatan pengasaman laut dan pertumbuhan alga yang berbahaya, dengan efek negatif pada kehidupan laut.
Di sektor perikanan, komposisi hasil tangkapan dan keanekaragaman ikan akan berubah. Nelayan tidak dapat bergerak leluasa untuk melakukan diversifikasi dan memanfaatkan teknologi dalam mempertahankan panen, serta akan menghadapi tantangan eksistensial kerawanan pangan.
Secara khusus, komunitas yang bergantung pada laut, termasuk masyarakat adat, akan berisiko lebih tinggi kehilangan warisan budaya dan tradisi tradisional yang bersumber dari makanan laut.
Risiko kenaikan permukaan laut membuat lebih banyak aset infrastruktur pesisir terkena banjir. Ini termasuk jaringan transportasi seperti kereta api, jalan dan pelabuhan, dan sistem energi, dengan kerugian ekonomi yang memperlambat pertumbuhan negara.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kemungkinan kita akan melihat kenaikan permukaan laut sekitar satu meter pada tahun 2100.
Tanpa adaptasi iklim dan langkah-langkah mitigasi yang disepakati oleh para pihak dalam Perjanjian Paris, kenaikan permukaan laut akan terus membentuk kembali garis pantai selama ribuan tahun, mempengaruhi pada setidaknya 25 kota besar dan menenggelamkan daerah dataran rendah di mana hampir 1,3 miliar orang tinggal.
Selain itu, kenaikan permukaan laut dan meningkatnya badai telah mempengaruhi aktivitas pelabuhan dan rantai pasokan, terkadang mengganggu perdagangan dan transportasi.
Dampak ini meningkatkan kerawanan pangan, kehilangan pendapatan dan kemiskinan, serta menambah kriminal maritim seperti penangkapan ikan ilegal, perdagangan narkoba dan pembajakan.
Dampak ekonomi dan sosial ini menyebar melintasi batas-batas nasional melalui rantai pasokan, pasar global, dan aliran sumber daya alam.
Rantai pasokan yang bergantung pada komoditas khusus dan infrastruktur utama dapat terganggu oleh peristiwa cuaca dan iklim ekstrem. Misalnya, perubahan iklim menyebabkan redistribusi stok ikan laut, meningkatkan risiko konflik pengelolaan lintas batas di antara pengguna perikanan.
Laporan tersebut juga menggambarkan ancaman yang muncul yang dihadapi laut kutub – Samudra Arktik yang dalam dan Samudra Selatan.
Kawasan ini menutupi sekitar 20 persen lautan global dan memainkan peran penting dalam menyerap emisi karbon.
Hanya saja, pencairan es telah membuka ekosistem kutub yang rentan ini untuk dieksploitasi manusia. Eksplorasi pariwisata, perkapalan, dan hidrokarbon kini meluas ke wilayah kutub.
Apakah kita mendekati apa yang disebut titik kritis di lautan? Laporan menjawab setuju.
Bukti menunjukkan bahwa titik kritis lautan lebih sering dilampaui seiring perubahan iklim.
Namun demikian, peluang untuk melampaui titik kritis di masa depan akan diminimalkan jika kita mengurangi emisi gas rumah kaca dan bertindak untuk membatasi dampak manusia lainnya di laut, seperti penangkapan ikan yang berlebihan dan polusi nutrisi.
Sumber: Maritime-executive.com
