Jejak Arkeoastronomi Dengan Memanfaatkan Langit Sebagai Navigasi

Ilustrasi luar angkasa. GAMBAR: THE SKY LIVE

Darilaut – Jejak arkeoastronomi sudah ada ribuan tahun sebelum Masehi di Indonesia, seperti dalam panduan bertani, upacara keagamaan dan memanfaatkan langit sebagai navigasi.

Pengaruh astronomi dari Tiongkok, Indian (Amerika), Arab, dan Eropa secara bertahap membentuk kombinasi akulturasi budaya yang unik, seperti Kalender Saka, arah kiblat, hingga Pranoto Mongso –kalender yang dipercayai dalam bertani berbasis pada geraknya Matahari yang digunakan masyarakat Jawa.

Bukti peninggalan arkeoastronomi lainnya adalah dengan ditemukannya Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

“Kedua candi tersebut terbukti dibangun berdasarkan keselarasan dengan Matahari dan Bulan,” kata Irma Indriana Hariawang, alumni Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB), dalam webinar bertajuk “100 Jam Astronomi untuk Semua” untuk memperingati World Space Week, Pusat Riset Antariksa (PRA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Irma menjelaskan interaksi antara langit dan kebudayaan manusia dalam perspektif arkeoastronomi.

“Ini membuktikan kecerdasan nenek moyang kita karena membangun candi tidak bisa sembarangan, perlu persiapan yang matang,” ujarnya.

Beberapa situs bersejarah dunia seperti Stonehenge di Inggris, Malta Temple di Malta, Gochang Dolmen di Korea, dan Piramida di Mesir disebut sebagai contoh klasik objek-objek arkeoastronomi yang menunjukkan keterkaitan antara arsitektur, langit dan manusia.

Bangunan-bangunan tersebut dibangun dengan mempertimbangkan posisi Matahari, Bulan, dan bintang, bahkan beberapa di antaranya berfungsi sebagai penanda waktu seperti kalender alam.

Jejak arkeoastronomi yang terungkap di Indonesia lainnya dengan ditemukannya berbagai artefak seperti Bejana Zodiak di Pasuruan, Gnomon Suku Kenyah Dayak di Kalimantan Timur, dan Bencet di Jawa Tengah.

Ketiganya memperlihatkan betapa erat hubungan antara langit dan kehidupan sehari-hari masyarakat karena masih digunakan sampai saat ini. Bejana Zodiak dapat dilihat secara langsung di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.

Ke depan, pendekatan interaktif seperti penggunaan Machine Learning dan Virtual Reality diharapkan dapat membuka jalan baru dalam menafsirkan dan memvisualisasikan peninggalan-peninggalan yang berkaitan dengan fenomena langit masa lalu.

Melalui teknologi ini, publik dapat menikmati kembali keindahan gerak bintang di situs kuno dan memahami konteks spiritualnya.

Exit mobile version