Darilaut – Sejak pencatatan dimulai tahun 1898, Juli tahun 2025 ini tercatat suhu tertinggi di Jepang.
Pejabat badan cuaca Jepang mengatakan tahun ini Jepang mengalami bulan Juli terpanas yang pernah tercatat.
Melansir NHK, Badan Meteorologi Jepang menyatakan suhu rata-rata nasional bulan ini mencapai rekor 2,89 derajat Celsius lebih tinggi dari biasanya. Badan itu menyebut Jepang menghadapi suhu tinggi yang abnormal.
Badan tersebut menyatakan bahwa rata-rata suhu tertinggi untuk bulan Juli sejak pencatatan dimulai pada 1898 dan memecahkan rekor sebelumnya untuk tahun ketiga berturut-turut. Deviasi dari normal tahun ini jauh lebih besar daripada data sebelumnya.
Pada Rabu 30 Juli 2025, suhu 41,2 derajat tercatat di Kota Tamba, Prefektur Hyogo, suhu tertinggi yang pernah tercatat di negara ini. Pada 24 Juli, suhu naik hingga hampir 40 derajat di beberapa wilayah di Prefektur Hokkaido, Jepang utara.
Suhu rata-rata pada Juli 6,3 derajat lebih tinggi daripada biasanya di Kota Oumu, Hokkaido. Suhu tercatat 4,8 derajat lebih tinggi di Kota Aomori, Jepang utara, dan 2,7 derajat lebih tinggi di pusat wilayah Tokyo.
Sementara itu, curah hujan di Jepang pada Juli lebih rendah. Curah hujan hanya 13 persen dari rata-rata di sisi Laut Jepang wilayah Tohoku dan hanya 8 persen di kawasan Hokuriku dan Prefektur Niigata. Angka ini merupakan rekor terendah sejak data tersebut mulai dikumpulkan pada tahun 1946.
Seorang pejabat badan tersebut mengatakan bahwa angin barat yang berembus ke utara merupakan penyebab suhu tinggi tidak normal dan curah hujan yang lebih sedikit.
Pejabat tersebut juga mengatakan bahwa panas ekstrem dan curah hujan yang lebih rendah diperkirakan akan berlanjut pada Agustus.
Dalam siaran pers Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), panas ekstrem berdampak pada banyak negara di seluruh dunia. Di siang hari suhu sangat tinggi dan berbahaya, begitu pula di malam hari.
Untuk itu, penting menggarisbawahi tindakan peringatan dini dan rencana aksi kesehatan akibat panas.
Gelombang panas dan suhu yang memecahkan rekor ini bertepatan dengan peringatan satu tahun Seruan Aksi Sekretaris Jenderal PBB untuk Panas Ekstrem pada 25 Juli.
Gelombang panas yang berkepanjangan dan berbahaya dengan “risiko panas ekstrem” berdampak pada jutaan orang di AS bagian Tenggara, menurut Badan Cuaca Nasional AS. Nilai indeks “rasa” panas, yang menggabungkan suhu dan kelembapan, akan mencapai 110-115°F (43-46°C), hingga awal Agustus.
Panas ekstrem juga melanda sebagian besar Afrika Utara dan Timur Tengah, dengan Republik Islam Iran melaporkan gangguan parah pada pasokan listrik dan air.
