Kapal Cepat yang Ditumpangi 11 Wisatawan Eropa Masuk Air, Patah, Miring dan Tenggelam di Teluk Tomini

Korban selamat kapal tenggelam di perairan Teluk Tomini saat tiba di Pulau Una-Una. POTONGAN VIDEO/ISTIMEWA

Darilaut – Kondisi cuaca di Pulau Una-Una, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, bisa untuk melakukan pelayaran jauh.

Hari itu, Jumat (24/7) pagi, kapal cepat (speed boat) akan berangkat dari resort di Pulau Una-Una, Taman Nasional Kepulauan Togean, menuju pantai Marisa, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Jalur pelayaran Pulau Una-Una dan Marisa di Teluk Tomini, telah menjadi alternatif karena cukup dekat, paling lama empat jam. Bila cuaca bagus dan sedikit berombak, dapat ditempuh hanya dua atau tiga jam dengan kapal cepat.

Bila menggunakan kapal penyeberangan fery dari Wakai ke Gorontalo atau sebaliknya, lebih dari 12 jam. Belum lagi, dari Pulau Una-Una harus menggunakan perahu ke Wakai.

Apalagi kondisi saat ini kapal penyeberangan fery yang biasanya dua kali dalam seminggu, tinggal sekali seminggu. Wisatawan yang sudah ada jadwal lebih dulu, tidak akan menunggu jadwal kapal fery yang berubah-ubah.

Itu sebabnya, ”11 wisawatan asal Eropa menggunakan speed boat ke Gorontalo,” kata Mukmin Badu, pengelola Hari-Mimin Homestay, Minggu (26/7).

Mukmin biasa disapa Mimin, Jumat siang memperoleh informasi mengenai kapal cepat yang ditumpangi 11 wisatawan mancanegara ini kehilangan kontak.

Kapal ini berangkat dari Pulau Una-Una pukul 07.00 dan hingga pukul 11.00 belum ada informasi apabila sudah tiba di Marisa.

Mimin mendapat informasi dari resort di Pulau Una-Una dan bergerak cepat melakukan komunikasi dengan Kantor Pencarian dan Pertolongan Gorontalo.

Tim Kantor Pencarian dan Pertolongan Gorontalo melakukan koordinasi dengan Basarnas Palu, Lanal Gorontalo, Polairud dan pemandu wisata.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Gorontalo, Heriyanto, mengatakan, tim belum bisa bergerak saat itu juga karena memperoleh titik koordinat hilangnya kapal cepat tesebut.

Tim Pencarian dan Pertolongan Gorontalo (SAR) gabungan bergerak Sabtu (25/7) pagi.

Pada Sabtu siang, diinformasikan korban kecelakaan laut di kapal cepat dari Una-Una ke Marisa ditemukan oleh tim pencarian dan pertolongan dari Pulau Una-Una.

Di kapal tersebut terdapat 14 orang, 11 di antaranya wisatawan mancanegara, satu penumpang lokal, nakhoda dan satu anak buah kapal.

13 orang termasuk wisatawan mancanegara ditemukan selamat, sementara nakhoda biasa dipanggil Om Un, dilaporkan hilang.

Noval, anak buah kapal yang selamat menceritakan kapal mulai bermasalah setelah satu jam lebih pelayaran.

Kapal cepat itu mulai kemasukan air. Penumpang kapal sudah menggunakan pelampung.

Ketika kapal mulai mengalami masalah dengan masuknya air laut, nakhoda ingin mencapai rakit (rumpon). Namun, air yang masuk ke kapal makin banyak dan tidak mencapai rakit tersebut.

Tak lama, kapal terbelah dua, dan ”miring ke kiri,” kata Noval seperti dikutip Darilaut.id melalui video singkat berdurasi 1 menit 15 detik.

Setelah kapal patah dua, miring dan tenggelam, penumpang kapal, nakhoda dan anak buah kapal terombang-ambing di perairan Teluk Tomini.

Korban kapal tenggelam ini saling berpegangan tangan. Karena arus dan ombak pencah menjadi tiga kelompok.

Un menyampaikan kepada Noval dan mengambil inisiatif menuju sendirian ke rakit. Selain rakit terlihat juga perahu.

”Ada yang mengail (memancing),” ujar Noval.

Noval, anak buah kapal yang selamat. POTONGAN VIDEO/ISTIMEWA

Hingga Sabtu siang, setelah tim pencarian dari Una-Una menemukan korban kecelakaan laut ini, nakhoda hilang. Upaya pencarian dan pertolongan masih dilakukan.

11 wisatawan mancanegara,  penumpang lokal bernama Oku (60 tahun) dan Noval dibawa ke resort di Pulau Una-Una.

Adapun 11 wisatawan asal Eropa tersebut, enam dari Sanctum Una Una Eco Dive Resort dan lima dari Lavana Dive & Nature Resort.

Wisatawan tersebut Milan Kasik, Rani Permentier, Mathijs Sercu, Jelka Van Driesum, Hinke Van Deer, Roeland Van Driesum, Age Van Driesum, Matthias Prange, Celine Josette Menguy, Hector Fabio Prange, Ronny Josue Prange.

Sebagian korban kecelakaan kapal ini dokumen seperti paspor dan uang hilang. Beberapa di antaranya masih memiliki paspor karena disimpan dengan menggunakan tas ikat pinggang.

”Ada yang dokumennya (paspor dll) hilang di laut,” kata Mimin.

Hingga Minggu, 11 wisatawan ini masih berada di Pulau Una-Una. (Verrianto Madjowa)

Exit mobile version