Kamboja pernah menghadapi situasi serupa sebelumnya. Saat El Niño melanda pada tahun 1997–1998, pemerintah Kamboja mengajukan permohonan bantuan sekitar 250.000 ton beras bagi penduduk yang terdampak kekeringan.
Di Provinsi Preah Vihear, Sokhom Kha sudah menjadi petani saat El Niño itu terjadi. Ia telah menggarap lahan pertaniannya sejak tahun 1987, jauh sebelum informasi cuaca dan iklim dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat pedesaan.
“Ada hari-hari di mana kami terpaksa makan nasi yang dicampur jagung merah demi bertahan hidup. Kami mencari rebung di hutan dan menangkap ikan di sawah untuk memberi makan seluruh keluarga,” ujarnya.
El Niño tahun 2015–2016 bahkan jauh lebih ekstrem. Fenomena ini menyebabkan kondisi panas dan kering yang luar biasa, berdampak pada sekitar 2,5 juta jiwa di 18 provinsi, serta menurunkan produksi padi dan merugikan sektor perikanan. Saat ini, Kamboja kembali menghadapi risiko dampak El Niño.




