Darilaut – Bulan Juni 2026 —berdasarkan data pengamatan satelit selama 41 tahun sebagai bagian dari Sistem Indeks Stres Pertanian (ASIS)— Organisasi Pangan dan Pertanian PBB atau Food and Agricultural Organization of the United Nations (FAO) mengidentifikasi bahwa Kamboja memiliki risiko tinggi mengalami kekeringan parah selama siklus El Niño.
FAO memperkirakan bahwa 127.300 hektar lahan pertanian dan padang penggembalaan di Kamboja kemungkinan akan terdampak El Niño.
Data semacam ini dapat membantu mengidentifikasi lokasi yang paling membutuhkan layanan pemantauan dan pemberian saran. Hal ini memberikan dasar bagi berbagai proyek dan pemerintah untuk menilai dampak El Niño yang kuat terhadap petani serta menentukan di mana tindakan dini dapat memberikan manfaat terbesar.
Di Kamboja, sebuah inisiatif sedang membantu masyarakat menghadapi ketidakpastian tersebut. Proyek PEARL, yang dilaksanakan oleh FAO bersama pemerintah Kamboja dan didanai oleh Green Climate Fund (GCF), memadukan informasi iklim, peringatan dini, dan langkah-langkah praktis untuk membantu petani mengelola dampak kekeringan.
Melalui Sekolah Lapangan Petani dan lokasi percontohan, PEARL mengajarkan masyarakat cara-cara praktis untuk menghadapi kondisi yang lebih kering. Metode ini mencakup penggunaan tanaman penutup tanah untuk menjaga kelembapan tanah, pembuatan tanggul lahan untuk menampung air, serta penyesuaian kalender tanam guna mengurangi dampak kekeringan.



