Komoditas Kelapa Perlu Keterlibatan Perguruan Tinggi untuk Riset dan Pengembangan Teknologi

Kopra, daging kelapa yang sudah dijemur dan dikeringkan. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Kelapa sebagai komoditas unggulan yang semua bagiannya dari daun hingga akar dapat dimanfaatkan masih memerlukan keterlibatan berbagai pihak terutama perguruan tinggi untuk melakukan riset serta pengembangan teknologi.

Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Riset dan Inovasi Daerah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Sri Nuryanti, mengatakan, produk-produk kelapa yang sudah dikerjakan oleh beberapa usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) maupun pemerintah daerah, bisa saling bekerja sama untuk memfasilitasi investasi industri pengolahan kelapa ini.

“Tentunya itu ada potensi untuk hadirnya investor, kemudian keterlibatan dari perguruan tinggi untuk melakukan riset, pengembangan teknologi dan lain sebagainya,” ujarnya.

Menurut Nuryanti, kelapa sebagai pohon kehidupan. Kelapa adalah komunitas unggulan di beberapa daerah. Hampir seluruh bagian dari pohon kelapa itu bisa dimanfaatkan, baik itu daging, buah, air, tempurung, sabun, nira, maupun batangnya.

“Di beberapa daerah saya pikir sudah mengembangkan berbagai produk dari kelapa itu. Sebenarnya dari upaya hilirisasi kelapa ini memunculkan lapangan pekerjaan yang baru juga diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan petaninya,” kata Nuryanti saat Webinar Sharing Knowledge Peran Strategis BRIDA dalam Implementasi Peta Jalan Hilirisasi Kelapa 2025–2045, pada Rabu (3/12).

Hilirisasi kelapa menjadi bagian dari amanat RPJPN 2025-2045 dan RPJMN 2025-2029. Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) berperan dalam mengimplementasikan amanat tersebut untuk mengintegrasikan riset dan inovasi menjadi produk bernilai tambah.

BRIDA juga sebagai penghubung strategis dengan BRIN dan kementerian/lembaga lain untuk menjamin sinergi dan perlindungan hukum inovasi.

“BRIDA sebagai penguat ekosistem riset dan inovasi, melalui percepatan komersialisasi dan koordinasi lintas instansi, sebagai fasilitator transformasi riset ke produk siap pasar, didukung perlindungan Kekayaan Intelektual (KI) dan penguatan SDM inovasi,” kata Staf Khusus Menteri PPN/Kepala Bappenas, Sukmo Harsono.

Pasar global diperkirakan tumbuh 7,05% sampai tahun 2029 dengan permintaan terbesar dari Eropa, Amerika Serikat dan China, serta untuk produk makanan dan minuman, kosmetik, kesehatan dan tekstil.

Indonesia menguasai pasar gula kelapa dan briket shisha terbesar di dunia. Potensi pasar dalam negeri yang sangat besar.

Dari 278 industri pengolahan kelapa, 16 di antaranya terintegrasi, 83 persen di Jawa dan Sumatera. Kemajuan riset dan inovasi untuk produk masa depan yang multi manfaat: karbon aktif, nanoselulosa, MCT, dan lain-lain. Potensi pendanaan hilirisasi dari BPDP.

Menurut Sukmo, dalam 1 tahun terakhir ini, kelapa menjadi salah satu media darling. Berita yang menghentak di berbagai macam media. Khususnya ketika harga kelapa melambung tinggi membuat sebagian masyarakat menikmati hasil yang sangat baik dari tingginya harga kelapa khususnya untuk ekspor.

Di sisi yang lain juga muncul kekhawatiran bahwa ini dilakukan secara besar-besaran dalam bentuk kelapa bulat atau kelapa jambul istilahnya. Maka potensi hilirisasi di dalam negeri yang selama ini sudah berjalan akan mendapatkan risiko yang cukup besar karena kekurangan pasokan, kata Sukmo.

Bertitik tolak pada dua hal tersebut, pihaknya membentuk Satgas Percepatan HiIirisasi Kelapa pada bulan Mei, yang terbentuk pada saat kelapa sedang mulai menanjak tinggi.

Untuk pertama kalinya pihaknya terjun ke lapangan melihat situasi sebenarnya seperti apa harga kelapa di lapangan dan apa yang terjadi.

“Kami berharap semua yang berkepentingan terhadap kelapa ini untuk bersama-sama memikirkan cara terbaik mengatasi persoalan yang mengancam kita di depan,” ujarnya.

“Perlu kami sampaikan potensi terbesar yang akan mengancam hilirisasi kelapa ini ketika kelapa tidak ada di negara kita. Artinya kelapa ini bukan lagi menjadi produk yang tersedia di perkebunan di republik ini.”

Exit mobile version