Darilaut – Beras, rokok kretek filter dan komoditas perikanan berandil sebagai penyumbang Garis Kemiskinan di Provinsi Gorontalo.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo mengatakan pada September 2025, komoditas makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada Garis Kemiskinan, baik di wilayah perkotaan maupun di perdesaan pada umumnya hampir sama.
Beras masih memberi sumbangan terbesar yakni sebesar 30,5 persen di perkotaan dan 32,74 persen di perdesaan.
Selanjutnya, posisi kedua rokok kretek filter memberikan sumbangan terhadap GK, yaitu sebesar 8,78 persen di perkotaan dan 7,03 persen di perdesaan.
Posisi ketiga komoditas dengan kontribusi terbesar di perkotaan dan di perdesaan adalah tongkol/ tuna/ cakalang, yaitu masing-masing sebesar 5,4 persen dan 6,26 persen, BPS Provinsi Gorontalo.
Selanjutnya, komoditas kue basah memberikan kontribusi ke-4 di perkotaan dan perdesaan dengan kontribusi masing-masing sebesar 4,11 persen dan 4,03 persen.
Di posisi ke-5, menurut BPS Provinsi Gorontalo, disumbang oleh komoditas cabe rawit dengan kontribusi sebesar 4,04 persen di perkotaan dan 3,7 persen di perdesaan.
Posisi ke-6 sampai dengan ke-10 kontributor utama penyusun Garis Kemiskinan di perkotaan meliputi telur ayam ras, bawang merah, daging ayam ras, gula pasir, dan tahu.
Adapun kontributor utama penyusun Garis Kemiskinan di perdesaan, dari posisi ke-6 sampai dengan ke-10 meliputi bawang merah, telur ayam ras, gula pasir, daging ayam kampung, dan daging ayam ras.
Secara total, komoditas makanan memberikan kontribusi sebesar 75,12 persen pada GK perkotaan dan sebesar 80,43 persen pada GK perdesaan.
Untuk mengukur kemiskinan, BPS antara lain menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan nonmakanan yang diukur menurut Garis Kemiskinan.
Garis Kemiskinan (GK) terdiri dari dua komponen, yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM). Penghitungan Garis Kemiskinan dilakukan secara terpisah untuk wilayah perkotaan dan perdesaan.
Pada September 2025, menurut BPS Provinsi Gorontalo, GKBM untuk wilayah perkotaan adalah sebesar Rp131.082,- dan perdesaan sebesar Rp100.211,-.
Berdasarkan kondisi tersebut, terlihat bahwa penduduk di wilayah perkotaan mempunyai pola konsumsi non makanan jauh lebih tinggi daripada penduduk di wilayah perdesaan.
Hal ini tentu dipengaruhi oleh konsumsi kebutuhan bukan makanan di perkotaan yang lebih banyak dengan harga relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah perdesaan, seperti komoditas perumahan, kesehatan, pakaian, perlengkapan, serta jasa.
Bila dibedakan Garis Kemiskinan wilayah perkotaan dan perdesaan, maka Garis Kemiskinan di wilayah perkotaan pada September 2025 adalah sebesar Rp526.930,- per kapita per bulan dan Garis Kemiskinan di wilayah perdesaan sebesar Rp512.138,- per kapita per bulan.
Komoditas non makanan yang memberikan sumbangan terbesar, baik pada GK perkotaan maupun perdesaan adalah perumahan, yaitu masing-masing sebesar 9,91 persen dan 8,02 persen.
BPS Provinsi Gorontalo mengatakan bensin memberikan sumbangan terbesar kedua terhadap GK, yaitu sebesar 2,33 persen di perkotaan dan 1,20 persen di perdesaan.
Posisi ke-3 untuk perkotaan disumbang oleh pengeluaran untuk listrik dengan kontribusi sebesar 1,55 persen. Sedangkan di perdesaan pada posisi ke-3 disumbang oleh komoditas perlengkapan mandi dengan kontribusi sebesar 1,02 persen.
Selanjutnya posisi ke-4 dan 5 di perkotaan meliputi perlengkapan mandi (1,31 persen) dan pendidikan (1,28 persen), sedangkan di perdesaan meliputi perawatan kulit, muka, kuku, rambut (0,97 persen) dan listrik (0,94 persen), menurut BPS Provinsi Gorontalo.
