Sementara itu, anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 periode Juli-Agustus-September (JAS) mencapai +2,70, yang mengindikasikan masih berlangsungnya fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat.
Kondisi tersebut turut memberikan pengaruh terhadap berkurangnya pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia.
Kondisi ini sejalan dengan hasil pemantauan curah hujan pada Dasarian III September. Sebanyak 70,59% wilayah Indonesia mengalami hujan kategori rendah, 27,48% kategori menengah, dan hanya 1,93% yang mengalami curah hujan kategori tinggi.
Di tengah dominasi kondisi kering tersebut, hujan dengan intensitas lebat masih terjadi di beberapa wilayah Indonesia.
Pada periode 1-4 Oktober 2026, BMKG mencatat curah hujan harian yang cukup signifikan, antara lain di Sumatera Utara sebesar 91 mm/hari, Sumatera Barat 69 mm/hari, Aceh 67 mm/hari, dan Jawa Barat 54 mm/hari.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun fenomena iklim global cenderung mendukung berkurangnya curah hujan, dinamika atmosfer pada skala regional dan lokal masih dapat memicu pertumbuhan awan hujan.
Aktivitas spasial Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, dan Gelombang Mixed Rossby-Gravity (MRG) yang mempengaruhi sejumlah wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, hingga Papua, turut mendukung peningkatan aktivitas konvektif.




