Tidak hanya itu, dalam beberapa hari terakhir, hujan juga teramati di wilayah Jabodetabek. Pada periode 28 – 30 September 2026, hujan dengan intensitas lebat terjadi di wilayah Kabupaten Bogor (96.1 mm/hari) dan Kota Tangerang Selatan (70 mm/hari).
Kejadian hujan tersebut berkaitan dengan pengaruh dinamika atmosfer skala regional dan lokal, antara lain aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial, suhu muka laut yang relatif hangat, serta tren Monsun Australia yang melemah, sehingga aliran udara kering dari Australia berkurang.
Kondisi ini membuat pengaruh area udara kering di sekitar Jawa tidak sekuat sebelumnya. Akibatnya, peluang masuknya udara yang lebih lembap ke wilayah Jawa, termasuk Jabodetabek, menjadi lebih besar.
Interaksi berbagai faktor tersebut kemudian meningkatkan ketersediaan uap air dan mendukung proses pengangkatan massa udara, sehingga memicu pertumbuhan awan konvektif yang dapat menghasilkan hujan lebat hingga sangat lebat secara lokal.
Kondisi ini menunjukkan adanya kontras cuaca antar wilayah. Sebagian wilayah masih mengalami kondisi kering yang meningkatkan kerawanan kebakaran hutan dan lahan, sementara wilayah lainnya tetap dapat mengalami hujan lebat hingga sangat lebat secara lokal.
Hujan yang terjadi secara singkat dan tidak merata juga belum tentu cukup untuk mengakhiri kondisi kering secara luas, terutama di wilayah yang telah mengalami defisit hujan dalam waktu cukup panjang, kata BMKG.




