Konsumsi Ikan yang Tercemar Timbal Mengganggu Fungsi Organ dan Reproduksi

Ilustrasi ikan. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Dampak yang ditimbulkan akibat konsumsi ikan yang mengandung timbal (Pb) dapat mengganggu fungsi organ, gangguan reproduksi, hingga peningkatan risiko keguguran dan kelahiran prematur pada kelompok rentan seperti ibu hamil.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan pencemaran logam berat pada perairan meliputi pengelolaan limbah yang lebih baik dan pengawasan terhadap aktivitas industri.

Timbal atau timah hitam merupakan logam beracun sangat berbahaya bagi manusia karena dapat memasuki tubuh melalui berbagai jalur, salah satunya yang paling umum adalah melalui makanan yang dikonsumsi dan telah terkontaminasi, seperti kerang dan ikan.

Ikan yang hidup di lingkungan tercemar memiliki potensi besar untuk menyerap dan menyimpan Pb dalam jaringan tubuhnya. Jika ikan tersebut dikonsumsi secara rutin, maka akumulasi Pb dalam tubuh manusia dapat terjadi, yang pada akhirnya berisiko menyebabkan keracunan logam berat.

Risiko ini meningkat secara signifikan pada kelompok rentan seperti anak-anak, wanita dalam usia reproduktif, dan ibu hamil, karena sistem metabolisme mereka lebih sensitif terhadap paparan zat toksik.

Berkaitan dengan Pekan Internasional Pencegahan Keracunan Timbal (International Lead Poisoning Prevention Week), tanggal 18 hingga 24 Oktober, Darilaut.id menerbitkan hasil penelitian maupun kajian berkaitan dengan polusi timbal dan dampaknya terhadap lingkungan dan manusia.

Kajian Viela Luckycia, Lilis Sulistyorini, Firda Azkiya Nisa’ Fadholi, Khansa Abida Arumdapta, dan Wildy Ariabima Kresnaya dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, logam berat yang telah mencemari lingkungan kemudian masuk ke rantai makanan melalui proses akumulasi dalam organisme air, seperti kerang dan ikan. Proses ini dikenal sebagai biomagnifikasi, yaitu peningkatan konsentrasi bahan beracun dalam jaringan organisme pada tingkat trofik yang lebih tinggi.

Akhirnya, logam berat tersebut mencapai manusia sebagai konsumen akhir, yang mengkonsumsi ikan dan makanan laut lainnya secara rutin, terutama di komunitas pesisir. Kerang, salah satu biota laut yang hidup menetap dan menyaring air laut untuk mendapatkan makanan, sering digunakan sebagai bioindikator pencemaran logam berat.

Hal ini karena kerang sangat rentan mengakumulasi logam berat seperti Pb dalam jaringan tubuhnya, terutama ketika berada di perairan yang telah tercemar. Fakta ini menjadi semakin penting karena kerang merupakan salah satu jenis makanan yang berasal dari laut, banyak orang mengetahui dan juga bahkan mengonsumsinya.

Oleh karena itu, risiko terjadinya toksisitas kronis akibat konsumsi kerang yang terkontaminasi logam berat menjadi perhatian utama, khususnya pada kelompok rentan seperti anak-anak, yang secara fisiologis lebih sensitif terhadap efek neurotoksik dari logam berat. Penelitian menunjukkan bahwa ikan juga dapat berfungsi sebagai bioindikator pencemaran lingkungan.

Sebagai contoh, di Sungai Gajah Wong dan Sungai Winongo di Yogyakarta menjadi lokasi yang cukup menonjol dalam beberapa penelitian karena menunjukkan kadar Timbal yang tinggi, baik dalam air maupun dalam tubuh ikan yang ditangkap dari perairan tersebut.

Kajian ini telah diterbitkan di Jurnal Kesehatan Tambusai Volume 6, Nomor 2, Juni 2025, dengan judul ”Kontaminasi Timbal (Pb) pada Ikan: Literatur Review.”

Pencemaran tersebut sebagian besar disebabkan oleh pembuangan limbah domestik, industri rumah tangga, serta aktivitas industri berskala besar yang tidak dikelola dengan baik.

Sumber utama dari limbah yang mengandung Timbal termasuk limbah elektroplating, limbah dari proses pembuatan dan daur ulang baterai, serta limbah pigmen yang digunakan dalam berbagai produk industri.

Di sisi lain, aktivitas transportasi air di pelabuhan, seperti yang terjadi di kawasan Pelabuhan Tanjung Mas, juga memberikan kontribusi signifikan terhadap pencemaran Pb di wilayah pesisir. Limbah yang dihasilkan oleh kendaraan air, baik berupa bahan bakar, oli, maupun zat kimia lainnya, dapat mencemari perairan sekitar dan menambah beban pencemaran logam berat.

Exit mobile version