Korban Tewas Akibat Banjir di Pakistan 903 Orang, Sudan 89

Hujan monsun lebat menyebabkan banjir berkepanjangan di Pakistan, pada 2022. FOTO: PAKISTANTODAY.COM.PK

Darilaut – Korban meninggal dunia akibat banjir di seluruh Pakistan bertambah menjadi 903, sementara di Sudan 89 orang.

Associated Press (AP) Kamis (25/8) melaporkan hujan deras telah memicu banjir bandang dan mendatangkan malapetaka di sebagian besar Pakistan sejak pertengahan Juni, menyebabkan 903 orang tewas dan sekitar 50.000 orang kehilangan tempat tinggal.

Ribuan orang yang rumahnya hanyut kini tinggal di tenda-tenda, bermil-mil jauhnya dari desa-desa dan kota-kota mereka yang terendam, setelah diselamatkan oleh tentara, pekerja bencana setempat, dan sukarelawan.

Otoritas Nasional Penanggulangan Bencana (National Disaster Management Authority) mengatakan Rabu bahwa 126 orang tewas dalam insiden banjir dalam 48 jam terakhir, dengan sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak.

Dari luar negeri, Perdana Menteri Shahbaz Sharif mengeluarkan seruan, mendesak para dermawan untuk membantu daerah-daerah yang terkena banjir di Pakistan.

Sharif saat ini mengunjungi negara-negera di Teluk, seperti Qatar untuk mencari bantuan keuangan, pinjaman dan investasi asing.

Pemerintahnya telah berjanji untuk memberikan kompensasi kepada mereka yang kehilangan rumah akibat banjir.

Setelah banjir melanda sebagian besar Baluchistan barat daya dan provinsi Punjab timur, banjir bandang kini mulai mempengaruhi juga provinsi Sindh selatan. Pihak berwenang minggu ini menutup sekolah di Sindh dan Baluchistan.

Menteri perubahan iklim Pakistan, Sherry Rehman, mengatakan otoritas lokal tidak dapat mengatasinya sendiri dan meminta masyarakat dunia untuk membantu.

Tayangan Televisi Pakistan pada hari Rabu menunjukkan orang-orang mengarungi air setinggi pinggang, menggendong anak-anak mereka dan membawa barang-barang penting di kepala.

Tim penyelamat menggunakan truk dan perahu untuk mengevakuasi orang ke tempat yang lebih aman dan makanan, tenda, dan persediaan dasar lainnya dikirim ke daerah yang terkena dampak banjir.

Hujan monsun, yang dimulai pada pertengahan Juni, diperkirakan akan berlanjut minggu ini, terutama di selatan.

Murad Ali Shah, pejabat tinggi terpilih di provinsi Sindh, mengatakan situasinya lebih buruk daripada tahun 2010, ketika banjir menewaskan sedikitnya 1.700 orang di Pakistan, sebagian besar di Sindh.

“Kami sedang melakukan yang terbaik untuk mengevakuasi orang-orang dari daerah yang dilanda banjir,” katanya, Selasa.

Banjir telah merusak sebanyak 129 jembatan di seluruh Pakistan, mengganggu pasokan buah dan sayuran ke pasar dan menyebabkan kenaikan harga.

Perubahan Iklim

Para ahli mengatakan perubahan iklim telah menyebabkan kondisi cuaca yang tidak menentu di Pakistan, mengakibatkan hujan deras, dan mencairnya gletser yang membuat sungai meluap.

Menurut para ahli membatasi emisi gas rumah kaca yang menghangatkan planet akan membantu membatasi peristiwa cuaca yang lebih drastis di seluruh dunia, termasuk di negara Asia Selatan ini.

“Dalam beberapa dekade terakhir, kami tidak pernah menyaksikan hujan lebat yang tidak biasa di Pakistan,” kata ilmuwan Shahla Gondal, sembari menambahkan bahwa pihak berwenang tidak memiliki perlengkapan yang memadai dan “tidak tahu bagaimana menangani” bencana banjir.

Mengutip Aljazeera.com (19/8) Pakistan berada di peringkat kedelapan di antara negara-negara yang paling rentan terhadap krisis iklim meskipun berkontribusi kurang dari satu persen terhadap emisi karbon global, menurut Indeks Risiko Perubahan Iklim 2021.

Banjir di Sudan

Mengutip AP, jumlah korban tewas akibat banjir bandang di Sudan sejak awal musim hujan di negara itu pada Mei telah meningkat menjadi 89 orang, kata seorang pejabat Selasa, saat hujan terus menggenangi desa-desa di seluruh negara Afrika timur itu.

Juru bicara Dewan Nasional Pertahanan Sipil Sudan, Jenderal Abdul-Jalil Abdul-Rahim, mengatakan sedikitnya 36 orang telah terluka sejak Mei. Sekitar 20.000 rumah telah “hancur total” di seluruh negeri dan lebih dari 30.000 rusak sebagian.

PBB mengatakan lebih dari 146.200 orang terkena dampak banjir. Rekaman yang ditayangkan oleh media lokal menunjukkan air yang naik menenggelamkan desa-desa.

Pihak berwenang telah mengumumkan keadaan darurat di enam dari 18 provinsi di negara itu.

Wilayah Darfur barat dan provinsi Sungai Nil, Nil Putih, Kordofan Barat dan Kordofan Selatan termasuk di antara yang paling terpukul, menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan, atau OCHA.

Badan-badan PBB kekurangan dana yang signifikan. OCHA mengatakan donor menyediakan sekitar $608 juta untuk merespon kemanusiaan di Sudan — kurang dari sepertiga dari apa yang dibutuhkan untuk tahun ini.

Musim hujan di Sudan biasanya dimulai pada bulan Juni dan berlangsung hingga akhir September, puncak pada bulan Agustus dan September.

Lebih dari 80 orang tewas dalam insiden banjir di Sudan selama musim hujan tahun lalu.

Sumber: Associated Press (Apnews.com) dan AL JAZEERA (Aljazeera.com)

Exit mobile version