Darilaut – Jumlah korban tewas akibat gempa lepas pantai Sarangani, Mindanao, Filipina Selatan berkekuatan magnitudo 7,8 meningkat menjadi 37 orang
Melansir Kantor Berita Filipina, Philippine News Agency (PNA) Wakil juru bicara Kantor Pertahanan Sipil (OCD), Diego Agustin Mariano, mengatakan hingga Selasa (9/6) pukul 06.00, tercatat empat korban tewas di Wilayah 11 (Davao) dan 33 di Wilayah 12 (SOCCSKSARGEN).
“Ini masih dalam proses validasi,” kata Mariano.
Ada 18 kematian yang sedang divalidasi di provinsi Sarangani dan Kota General Santos, keduanya di Wilayah 12, dan tiga di South Cotabato.
OCD belum merilis angka kerusakan yang disebabkan oleh gempa kuat tersebut.
Laporan sebelumnya menyebutkan ada 144 orang terluka dan empat orang hilang.
Penilaian awal menunjukkan bahwa Kota General Santos adalah yang paling parah terkena dampak ketika gempa terjadi pada Senin pukul 7.37 pagi hari Senin di Laut Sulawesi.
Hingga pukul 7 pagi hari Selasa, Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina mencatat 1.055 gempa susulan, dengan magnitudo berkisar antara 1,3-6,7.
OCD mengatakan pemerintah nasional bekerja sama dengan pejabat setempat di Sarangani untuk bantuan dan pertolongan.
Mereka akan mengerahkan generator dan bahan bakar untuk digunakan rumah sakit guna memastikan kelangsungan operasional fasilitas medis.
Gempa dahsyat di lepas pantai Sarangani, mendapat respon cepat dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan bersiap mendukung upaya pemulihan.
PBB di Filipina mengeluarkan pernyataan solidaritas, memuji tindakan cepat dari otoritas nasional dan lokal serta menegaskan kembali kesiapannya untuk mendukung respons yang dipimpin pemerintah.
Melansir UN News, Program Pangan Dunia PBB (WFP) mengerahkan staf dan peralatan darurat untuk membantu membangun fasilitas penyimpanan sementara untuk pasokan bantuan, sementara Palang Merah Filipina dan mitra lainnya juga telah mulai memobilisasi tim respons.
Organisasi kemanusiaan sedang melakukan penilaian cepat untuk mengidentifikasi kebutuhan mendesak, sementara pertemuan Tim Kemanusiaan Negara ad hoc dijadwalkan pada hari Selasa (9/6) karena pihak berwenang berupaya menentukan skala penuh dari salah satu gempa bumi terkuat yang melanda Mindanao dalam beberapa tahun terakhir.
