Darilaut – Kepala Pusat Riset Sistem Biota (PRSB) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Decky Indrawan Junaedi, mengatakan, kuda laut di Indonesia bukan sekadar satwa laut yang unik, melainkan memiliki peran ekologis yang sangat vital.
Spesies kuda laut bertindak sebagai species indicator atau penanda alami dari kondisi kesehatan lingkungan perairan.
“Kuda laut ini adalah species indicator, karena dia sangat sensitif terhadap perubahan kualitas air dan sangat sensitif terhadap pencemaran,” ujar Decky, dalam Lokakarya Eksplorasi Opsi Pengelolaan Penangkapan dan Perdagangan Kuda Laut Berkelanjutan di Indonesia, di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Rabu (20/3).
Sehingga, ”ada atau tidaknya kuda laut ini menjadi indikator penurunan kualitas lingkungan habitatnya.”
Decky menjelaskan bahwa dengan melindungi populasi kuda laut, secara tidak langsung kita ikut menjaga keutuhan ekosistem laut yang lebih luas.
Dari sisi rantai makanan, kuda laut mengonsumsi krustasea kecil dan plankton, sehingga keberadaannya berfungsi menjaga keseimbangan agar tidak terjadi ledakan populasi plankton yang bisa merusak perairan.
Namun, tantangan besar yang dihadapi saat ini adalah bagaimana menghindari praktik penangkapan langsung dari alam yang tidak terkendali. BRIN mendorong agar arah pengelolaan kuda laut bergeser ke ranah pemanfaatan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
“Jangan hanya pemanenan langsung di alam, pemanfaatan dan pengelolaan harus diarahkan ke yang lebih berkelanjutan,” kata Decky seperti dikutip dari Brin.go.id.
”Opsi-opsi lain perlu didorong, misalnya ke aspek wisata bahari, fotografi, dan sebagainya. Ketika kita bicara konservasi, BRIN melihatnya tentu saja bukan hanya sekadar perlindungan, tetapi kita harus bisa memanfaatkannya secara berkelanjutan.”
BRIN menegaskan komitmennya untuk mengawal kelestarian satwa laut melalui penguatan riset ekologi spesies. Salah satu fokus utamanya, yaitu upaya perlindungan dan pengelolaan berkelanjutan terhadap kuda laut, yang merupakan salah satu kekayaan keanekaragaman hayati maritim Indonesia.
Indonesia sendiri menduduki peringkat kedua di dunia dalam hal kekayaan keanekaragaman hayati, termasuk kepemilikan bagi sedikitnya 13 spesies kuda laut. Mengingat karakter biologisnya yang unik, seperti kemampuan adaptasi kamuflase yang tinggi, hingga perilaku reproduksi unik, di mana pejantan yang aktif mengerami telur kuda laut menjadi objek penelitian yang sangat menarik.
Pertemuan strategis ini menjadi wadah kolaborasi antara BRIN, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), akademisi, serta lembaga swadaya masyarakat.
Untuk mewujudkan pengelolaan tersebut, BRIN aktif membangun jejaring global. Salah satu sinergi yang sedang berjalan adalah kemitraan dengan Project Seahorse dari University of British Columbia, Kanada.
Kolaborasi ini diharapkan dapat melahirkan penelitian jangka panjang yang komprehensif mengenai ekologi kuda laut di Indonesia.
Selain dengan Project Seahorse, BRIN juga sedang melaksanakan kerja sama penelitian internasional lainnya, seperti pemodelan aktivitas nelayan terkait daerah tangkapan (fishing ground) di sekitar Selat Malaka menggunakan alat perekam khusus dari Ocean Solution Technology (OST) Jepang.
BRIN juga bersiap untuk dapat membantu KKP dalam usaha penyediaan dan pendataan stok ikan bagi kebijakan perikanan tangkap.
Melalui lokakarya ini, kekayaan hayati tidak hanya sekadar dijaga secara pasif, tetapi mampu memberikan nilai manfaat nyata bagi kemakmuran bangsa Indonesia melalui pengelolaan yang berbasis sains dan berkelanjutan.
