“Jangan hanya pemanenan langsung di alam, pemanfaatan dan pengelolaan harus diarahkan ke yang lebih berkelanjutan,” kata Decky seperti dikutip dari Brin.go.id.
”Opsi-opsi lain perlu didorong, misalnya ke aspek wisata bahari, fotografi, dan sebagainya. Ketika kita bicara konservasi, BRIN melihatnya tentu saja bukan hanya sekadar perlindungan, tetapi kita harus bisa memanfaatkannya secara berkelanjutan.”
BRIN menegaskan komitmennya untuk mengawal kelestarian satwa laut melalui penguatan riset ekologi spesies. Salah satu fokus utamanya, yaitu upaya perlindungan dan pengelolaan berkelanjutan terhadap kuda laut, yang merupakan salah satu kekayaan keanekaragaman hayati maritim Indonesia.
Indonesia sendiri menduduki peringkat kedua di dunia dalam hal kekayaan keanekaragaman hayati, termasuk kepemilikan bagi sedikitnya 13 spesies kuda laut. Mengingat karakter biologisnya yang unik, seperti kemampuan adaptasi kamuflase yang tinggi, hingga perilaku reproduksi unik, di mana pejantan yang aktif mengerami telur kuda laut menjadi objek penelitian yang sangat menarik.
Pertemuan strategis ini menjadi wadah kolaborasi antara BRIN, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), akademisi, serta lembaga swadaya masyarakat.
Untuk mewujudkan pengelolaan tersebut, BRIN aktif membangun jejaring global. Salah satu sinergi yang sedang berjalan adalah kemitraan dengan Project Seahorse dari University of British Columbia, Kanada.




