Kuda Laut Masih Sebagai Tangkapan Sampingan dan Target Utama

Lokakarya “Penanganan Kuda Laut Hasil Sitaan” di Gedung B. J. Habibie, Jakarta, Kamis (27/8). FOTO: BRIN

Darilaut – Hasil survei Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan kuda laut sebagai tangkapan sampingan dan target utama penangkapan.

Survei dilakukan di 19 provinsi dan melibatkan lebih dari 343 responden. Responden berasal dari berbagai kelompok, mulai dari nelayan, pembudidaya, penyelam, pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, hingga pedagang kuda laut.

Selain untuk mendapatkan informasi dari para stakeholder, tim peneliti juga melakukan verifikasi terhadap jenis kuda laut yang telah ditemukan di lapangan.

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Sistem Biota (BRIN), Masayu Rahmia Anwar Putri menjelaskan bahwa riset yang telah dilakukan sejak 2025 hingga 2026 bertujuan untuk mengumpulkan data mengenai populasi, distribusi, ekologi, penangkapan dan perdagangan kuda laut.

Hal ini disampaikan Masayu dalam lokakarya bertajuk “Penanganan Kuda Laut Hasil Sitaan” di Gedung B. J. Habibie, Jakarta, Kamis (27/8).

Menurut Masayu, data tersebut menjadi salah satu dasar penting dalam penyusunan data pengelolaan kuda laut berbasis informasi ilmiah.

Hasil survei menunjukkan bahwa kuda laut masih ditemukan dalam aktivitas perikanan sebagai tangkapan sampingan dan target utama penangkapan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pentingnya pengelolaan yang mempertimbangkan aspek ekologis sekaligus kondisi masyarakat yang bergantung pada sumber daya laut.

Untuk itu, BRIN mendorong penguatan pengelolaan kuda laut di Indonesia melalui riset, peningkatan kapasitas serta kolaborasi lintas stakeholder.

Melalui penguatan riset, kapasitas sumber daya manusia dan kolaborasi lintas sektor, BRIN berperan dalam menyediakan dasar ilmiah bagi pengelolaan kuda laut.

Upaya tersebut diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya laut di alam dan kelestarian ekosistem untuk jangka panjang.

Masayu mengatakan untuk jangka panjangnya diharapkan setiap kebijakan berbasis data dan bukti ilmiah, kemudian ada harmonisasi kebijakan antara pusat dan daerah, alat tangkapnya lebih selektif dengan tata ruang pesisir yang sudah lebih baik.

Dengan demikian, kata Masayu, pemanfaatannya akan memberikan nilai ekonomis yang baik buat masyarakat, ”serta tidak hanya dimanfaatkan secara ekstraktif tetapi juga non ekstraktif dengan adanya eduwisata.”

Kepala Pusat Riset Sistem Biota BRIN, Decky Indrawan Junaedi, menjelaskan bahwa kemampuan untuk mengenali spesies menjadi salah satu dasar penting dalam pengelolaan kuda laut. Menurut Decky, informasi mengenai jenis kuda laut perlu dipastikan sejak awal agar data yang digunakan dalam pengelolaan dan konservasi dapat lebih akurat.

“Pengenalan spesies ini menjadi yang paling utama dan paling pokok,” kata Decky seperti dikutip dari Brin.go.id.

Selain peningkatan kapasitas identifikasi, rekomendasi strategi pengelolaan kuda laut sebagai hasil lokakarya yang dilakukan pada bulan Mei 2026, juga disampaikan dalam kegiatan ini, yang mencakup tiga tahap, yaitu jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

Dalam jangka pendek yang akan berlangsung pada 0-1 tahun pertama, strategi diarahkan pada peningkatan kapasitas melalui edukasi dan penyadartahuan, pelatihan identifikasi dan monitoring, kolaborasi data, pemetaan habitat kritis serta koordinasi antar desa dan berbagai sektor terkait.

Selanjutnya, pada jangka menengah yang berlangsung pada tahun 1 sampai ke 3, pengelolaan dilakukan melalui penguatan tata kelola langkah yang direkomendasikan meliputi pembangunan database kuda laut yang terintegrasi, pengembangan platform digital dan dashboard data, monitoring stok secara berkala, dan pemanfaatan hasil riset untuk mendukung pengelolaan serta budidaya berkelanjutan.

Sementara itu, untuk rekomendasi pengelolaan jangka panjang, strategi diarahkan pada inovasi dan keberlanjutan. Kebijakan diharapkan semakin berbasis data dan bukti ilmiah, disertai harmonisasi kebijakan pusat dan daerah, penggunaan alat tangkap yang lebih selektif, penataan ruang pesisir, serta pengembangan ekonomi biru dan mata pencaharian berkelanjutan. Pengelolaan juga dapat dikembangkan melalui wisata edukasi dan konservasi serta kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.

Decky mengatakan bahwa pengelolaan kuda laut tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, keterlibatan masyarakat menjadi penting dalam pengelolaan habitat dan pembuatan alternatif ekonomi yang tetap memperhatikan prinsip keberlanjutan.

Exit mobile version