Kurikulum Kemaritiman Sudah Diterapkan di 48 Sekolah

Kurikulm Kemaritiman

FOTO: KEMENKO KEMARITIMAN

Surabaya – Pengembangan kurikulum kemaritiman, hingga 2018 ini, telah diterapkan di 48 sekolah percontohan sebagai pilot project. Kurikulum kemaritiman ini kerjasama Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Lokasi percontohan pengembangan kurikulum kemaritiman ini berada di 12 provinsi, di Indonesia. Masing-masing 12 PAUD, 12 SD, 12 SMP dan 12 SMA/SMK.

Berdasarkan monitoring yang telah dilakukan Kemenko Kemaritiman, banyak ditemukan kreativitas dalam implementasi kurikulum ini di sekolah-sekolah. Hal ini dapat dilihat dengan adanya kelas dan ornamen bahasri, serta karya-karya siswa lainnya.

Seperti yang dicatat tim Monitoring pada 2 November lalu, di TK Hang Tuah 7 Surabaya. Terdapat ruang kelas bahari, taman bermain dengan ornamen bahari, serta hasil karya siswa dan orang tua berupa miniatur kapal maupun biota laut. Ini menegaskan penerapan pendidikan kemaritiman telah dimulai sejak usia dini.

Dalam kegiatan ini, Tim Monitoring Kemenko Kemaritiman mengunjungi TK Hang Tuah 7 Surabaya, SD Hang Tuah 10 Sidoarjo dan SMP Hang Tuah 5 Sidoarjo. Selain itu, di SMA Hang Tuah 2 Sidoarjo dan Rumah Bahari SMA Hang Tuah 1 Surabaya.

Di SD Hang Tuah 10 Sidoarjo, tim mencatat perkembangan serta inovasi implementasi kurikulum kemaritiman dalam bentuk penyajian ruang kelas yang berdekorasi bahari dan ruang multimedia dengan konten kemaritiman.

Di SMP Hang Tuah 5 Sidoarjo, wawasan maritim telah dimasukan dalam visi sekolah. Bahkan, kebaharian sudah menjadi mata pelajaran dalam kelompok muatan lokal dan mata pelajaran tersebut yang diintegrasikan dalam beberapa mata pelajaran. Seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Prakarya dan Matematika.

Yang lebih mengesankan, terdapat 12 ruang kelas diberi nama yang berkorelasi langsung dengan kemaritiman. Misalnya, kelas VII A Shark, IX A Dewa Ruci dan VIII C Raja Ampat.

Untuk SMA Hang Tuah 2 Sidoarjo, tim mendapatkan fakta mengenai buku-buku mata pelajaran dengan muatan kemaritiman yang diimplementasikan di sekolah tersebut. SMA ini memiliki Laboratorium Bahari sebagai instrumen penelitian para siswa.

Di SMA Hang Tuah 1 Surabaya, memiliki laboratorium khusus yang diberi nama Rumah Bahari. Di samping itu, sekolah tersebut mempunyai ruang pamer yang memajang benda-benda hasil karya siswa dan guru Yayasan Hang Tuah.

Secara keseluruhan, berdasarkan identifikasi Tim Monitoring, lima sekolah yang dikunjungi di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur, secara bertahap menerapkan kurikulum bermuatan kemaritiman.*

Exit mobile version