Dalam penelitian ini, para ilmuwan memeriksa perubahan kelimpahan dan distribusi tuna sirip biru di Samudra Atlantik selama 200 tahun terakhir. Tim peneliti menggabungkan dua pendekatan pemodelan, dengan fokus pada intensitas tangkapan dari waktu ke waktu, distribusi kejadian, yaitu ketika diamati atau ditangkap.
Hasilnya jelas: AMO adalah pendorong utama yang mempengaruhi kelimpahan dan distribusi tuna sirip biru.
“Efek ekologis AMO telah lama diabaikan, dan hasil kami merupakan terobosan dalam memahami sejarah tuna sirip biru di Atlantik Utara,” kata Faillettaz seperti dikutip phys.org.
AMO mempengaruhi proses atmosfer dan oseanografi yang kompleks di belahan bumi utara. Termasuk arah arus laut, kekeringan di darat, frekuensi dan intensitas badai Atlantik.
Diperkirakan setiap 60 hingga 120 tahun, AMO beralih antara fase positif dan negatif untuk menciptakan pergeseran skala cekungan dalam distribusi tuna sirip biru Atlantik. Selama fase AMO hangat, seperti pada pertengahan 1990-an, tuna sirip biru mencari makan ke utara sejauh Greenland, Islandia dan Norwegia dan hampir menghilang dari Atlantik tengah dan selatan.
Contoh paling mencolok dari efek AMO pada tuna sirip biru adalah runtuhnya perikanan tuna sirip biru Nordic besar pada tahun 1963. Keruntuhan ini bertepatan dengan perubahan paling cepat yang diketahui dalam AMO.





Komentar tentang post