Darilaut – Hasil penelitian menunjukkan magma Gunung Anak Krakatau memiliki karakter lebih basaltik, lebih panas, dan tersimpan lebih dalam dibandingkan periode Old dan Young Krakatau.
Temuan tersebut memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai perkembangan sistem magmatik Krakatau.
Pengetahuan tentang hubungan antara komposisi magma, kedalaman reservoir, temperatur, kondisi oksidasi, dan aktivitas erupsi menjadi bagian penting dalam memperkuat pemahaman risiko serta upaya mitigasi bagi masyarakat di sekitar kawasan terdampak.
Menurut Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Adrin Tohari, adanya perubahan komposisi dan kedalaman penyimpanan magma dalam evolusi sistem Krakatau.
Dalam Geohazard Webinar 2026 #05, Senin (14/9), Adrin mengatakan, pengawasan dan pemahaman ilmiah yang komprehensif mengenai Krakatau sangat penting bagi keselamatan masyarakat pesisir dan kelancaran aktivitas pelayaran di kawasan Selat Sunda.
“Krakatau yang berada di kawasan Selat Sunda memiliki nilai penting tidak hanya dari sisi geologi dan vulkanologi, tapi juga dalam kaitannya dengan keselamatan masyarakat, aktivitas pelayaran, serta potensi bahaya yang dapat berdampak pada wilayah pesisir,” ujar Adrin seperti dikutip dati Brin.go.id.
Salah satu upaya untuk memperkuat pemahaman tersebut dilakukan melalui penelitian terhadap kondisi sistem magma di bawah Krakatau.
Peneliti Ahli PRKG BRIN, Aditya Pratama, menjelaskan hasil penelitiannya mengenai “Magma Storage Conditions Beneath Krakatau, Indonesia: Insight from Geochemistry and Rock Magnetism Studies”, yang telah dipublikasikan dalam Frontiers in Earth Science pada 2023.
Aditya mengatakan bahwa Krakatau merupakan sistem gunung api dengan sejarah aktivitas yang panjang. Salah satu peristiwa terbesar terjadi pada 27 Agustus 1883 ketika letusan mencapai VEI (Daya Ledak Vulkanik) 6 dan memicu tsunami yang menyebabkan lebih dari 36.000 korban jiwa di kawasan Selat Sunda.
Dalam sejarah geologinya, sistem Krakatau diketahui telah mengalami sedikitnya dua caldera-forming eruption atau letusan pembentukan kaldera, yakni sekitar abad ke-5 atau 6 dan pada 1883 M.
Dinamika aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian karena berpotensi menimbulkan risiko bagi kawasan sekitarnya.
Dampaknya dapat berkaitan dengan keselamatan masyarakat pesisir dan aktivitas pelayaran di Selat Sunda.
Pemahaman mengenai perubahan sistem magma di bawah gunung api tersebut diperlukan untuk memperkuat mitigasi risiko bencana geologi dan pengembangan sistem peringatan dini.
Dalam webinar turut memberikan materi Prof. Sebastian Watt dari University of Birmingham mengenai “Historical Context and Future Development of Anak Krakatau” serta Semeidi Husrin, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Kebencanaan Geologi mengenai “Data dan Fakta Monitoring 24 Jam Potensi Tsunami Krakatau dengan IDSL/PUMMA”.
Konsentrasi Sulfur Dioksida
Gunung Anak Krakatau memasuki periode aktivitas erupsi berkelanjutan pada 4 September 2026 yang berlangsung selama sekira 25 jam.
Anak Krakatau adalah gunung berapi aktif di Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatra.
Citra yang ada dalam gambar, dihasilkan menggunakan data dari satelit Copernicus Sentinel-5P pada 6 September 2026, memperlihatkan peningkatan konsentrasi sulfur dioksida (SO₂) yang terkait dengan erupsi tersebut.
Awan gas dan abu membentang sejauh ratusan kilometer ke arah barat di atas Samudra Hindia, dengan konsentrasi lebih tinggi divisualisasikan dalam nuansa warna merah.
Kemampuan pemantauan atmosfer Copernicus Sentinel-5P mendukung deteksi dan pelacakan emisi gas serta abu vulkanik—yang merupakan bahaya bagi keselamatan penerbangan—serta mendukung penilaian kualitas udara dan studi iklim.Eksplorasi Ilmu Atmosfer
Satelit Copernicus Sentinel-2 juga berhasil menangkap citra letusan Gunung Anak Krakatau. Rekaman kolom erupsi tersebut membubung hingga ketinggian sekitar 15 km, tulis dari Copernicus Eropa melalui akun X @CopernicusEU.
Satelit Sentinel-2 berhasil merekam letusan tersebut selama dua detik dari atas Gunung Anak Krakatau pada tanggal 5 September.
