Melaut Saat Cuaca Ekstrem Nelayan Harus Punya Mental Kuat

Perahu nelayan di Kelurahan Leato Selatan. FOTO: FIRGITHA DESYA PADJA

Darilaut –  Perahu mulai disiapkan. Usman Inaku (63 tahun) nelayan Kelurahan Leato Selatan, Kota Gorontalo itu akan melaut.

Waktu di pesisir Tekuk Tomini menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Sebelum mentari terbit di ufuk timur, Usman mengecek tangki bahan bakar yang diisi penuh, mesin dan kelistrikan dipastikan berfungsi sempurna.

Balok es dikemas dalam boks untuk mengawetkan hasil tangkapan nanti, dan tidak lupa makanan yang sudah disiapkan istri ikut dibawa sebagai bekal selama melaut.

Usman membutuhkan perjalanan lebih dari satu jam ke tempat penangkapan ikan pelagis, terutama tuna. Ikan tuna merupakan salah satu komoditi yang sering dipatok dengan harga tinggi oleh penampung.

Rata-rata nelayan di Kelurahan Leato Selatan mengeluarkan biaya Rp 2 juta untuk sekali melaut.

Dengan biaya tersebut, Usman dapat menempuh jarak sekitar 70 mil laut, bahkan lebih. Jika hasil tangkapan ikan banyak hanya dalam beberapa jam, nelayan ini akan kembali

Namun, ekpektasi tidak sejalan dengan realita. Hasil tangkapan sering kali tidak menentu dan cenderung sedikit, pulang tentu bukanlah pilihan yang tepat karena modal yang telah dikeluarkan tidaklah sedikit.

Apabila modal untuk melaut belum mencukupi dengan hasil tangkapan, Usman dan nelayan lainnya akan bertahan di tengah laut selama 3 sampai 4 hari.

Adakalanya, modal untuk melaut tidak sebanding dengan hasil tangkapan ikannya. Belum lagi ikan hasil tangkapan dibeli dengan harga rendah.

Dilema ini sering kali muncul tak kala penghujung tahun tiba. Di bulan Desember yang digadang-gadang sebagai bulannya ikan berkumpul, justru di saat yang bersamaan pula harga ikan menjadi turun.

Ikan yang berlimpah justru menciptakan banyaknya persaingan antara nelayan satu dengan nelayan yang lainnya.

Pria paruh baya ini telah menjalani kehidupannya sebagai seorang nelayan sejak berusia 12 tahun. Pekerjaan sebagai nelayan bak tradisi turun temurun di keluarganya.

Usman belajar berlayar dan menangkap ikan dari ayahnya, kemudian ilmu tersebut diturunkan ke anak-anaknya.

“Ya kalau tidak mau sekolah, mau tidak mau ikut harus ikut saya turun ke laut menjadi nelayan,” kata Usman.

Usman telah merasakan pahit dan manis kehidupan di tengah laut. Salah satunya, kehabisan bahan bakar ketika berada di tengah laut.

Ketika berada dalam situasi seperti ini Usman akan sedikit menepi mengikatkan perahu miliknya ke rakit atau rumpon (tempat ikan berkumpul). Setelah itu, Usman akan memberi kabar melalui sambungan telpon seluler.

Masalah lain, soal perubahan iklim dan cuaca ekstrem. Usman dan nelayan lainnya saat musim angin timur menghadapi tantangan besar. Ini karena ombak yang menerjang cukup besar.

Disinilah skill seorang nelayan diuji dan nyawa dipertaruhkan. Namun bagi Usman, ketika seseorang telah memutuskan untuk menjadi nelayan, maka harus siap dengan segala risiko yang ada di laut.

Usman Inaku (63 tahun) nelayan di Lelurahan Leato Selatan, Kota Gorontalo. FOTO: FIRGITHA DESYA PADJA

Panas, hujan, angin, ombak adalah keseharian yang dihadapi selama melaut.

“Nelayan harus punya mental yang kuat, tidak bisa lembek. Hujan dan panas tidak bisa dihindari, cara satu-satunya adalah berani menghadapi segala risiko itu,” ujarnya.

Melaut atau tidak di musim angin timur menjadi pilihan masing-masing nelayan.

Usman memiliki mata pencarian sambilan, mulai dari menjadi kuli bangunan hingga pekerjaan seperti mengumpulkan batu-batu gunung untuk dijual.

Walaupun pekerjaan nelayan adalah mata pencarian utama, namun hasilnya hanya cukup untuk makan sehari-hari keluarganya.

”Butuh pekerjaan sampingan untuk menunjang kebutuhan keluarga,” kata Usman.

Memperingati Hari Nelayan Nasional, tanggal 6 April ini, Usman dan nelayan lainnya berharap pemerintah lebih membuka mata terhadap isu kesejahteraan nelayan. Nelayan tergolong pekerjaan yang berisiko.

Nelayan merupakan salah satu profesi termiskin di negeri ini. Hal ini dibuktikan dengan data Survei Sosio Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2017 yang dilakukan Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpad Prof. Dr. Zuzy Anna  dan tim, “Sebanyak 11,34% orang di sektor perikanan tergolong miskin, lebih tinggi dibandingkan sektor pelayanan restoran (5,56%), konstruksi bangunan (9,86%), serta pengelolaan sampah (9,62%),”

Ini tentu diharapkan harus menjadi perhatian khusus bagi pemerintah dan pihak-pihak terkait, bantuan dan dukungan akan sangat diperlukan. (Dewi Agustina Musa dan Firgitha Desya Padja)

Exit mobile version