Darilaut – Data iklim biasanya disusun berdasarkan Variabel Iklim Esensial atau Essential Climate Variables (ECV) seperti suhu, curah hujan, atau permukaan laut—yang didefinisikan dan distandardisasi oleh Global Climate Observing System (GCOS).
Inti dari proyek percontohan ini adanya perubahan metodologis.
Sebaliknya, ekosistem dipahami melalui konsep Kelompok Fungsional Ekosistem atau EFG (Ecosystem Functional Groups), seperti terumbu karang berbatu di zona subtidal, hutan dan semak belukar di zona intertidal, atau hutan hujan dataran rendah tropis, sebagaimana didefinisikan oleh IUCN.
Hingga saat ini, kedua kerangka kerja tersebut sebagian besar berjalan secara terpisah. Proyek percontohan Work Package 3 (WP3) di Maladewa berupaya untuk menyatukan keduanya.
Melansir Wmo.int dengan menghubungkan Variabel Iklim Esensial (Essential Climate Variables atau ECV) dan EFG, United Nations University – Institute for Environment and Human Security (UNU-EHS) sedang mengembangkan kerangka kerja untuk memahami dan menilai kerentanan ekosistem terhadap perubahan iklim.
Hal ini memungkinkan para pengambil keputusan untuk mengetahui di mana solusi berbasis alam dapat memperkuat ketahanan.
Terlepas dari kompleksitas teknis dalam pelaksanaannya, proyek percontohan ini menandai perubahan nyata: dari sekadar mengamati iklim menjadi memahami dampaknya serta mengambil tindakan nyata berdasarkan pemahaman tersebut.
Praktik di Maladewa
Transisi dari koordinasi global menuju penerapan di lapangan menjadi nyata melalui berbagai kegiatan yang dilaksanakan di dalam negeri sepanjang tahun 2024 dan 2025, sebagai bagian dari inisiatif Global Ecosystems Atlas National Accelerator.
Salah satu kegiatan tersebut—misi lapangan yang dilakukan pada bulan September 2025—menjadi langkah krusial dalam pemetaan EFG Maladewa: beralih dari data hasil pemodelan menuju informasi yang telah divalidasi dan spesifik untuk wilayah tersebut.
Proses ini—yang dikenal sebagai ground-truthing (verifikasi lapangan)—sangatlah penting. Selama empat minggu, tim gabungan yang terdiri dari para ahli asal Maladewa dan peneliti internasional mengunjungi puluhan pulau serta lokasi pesisir.
Dengan menggunakan metodologi standar yang selaras dengan standar GET IUCN, mereka melakukan survei ekosistem secara sistematis.
Di setiap lokasi, tim mengidentifikasi jenis ekosistem yang dominan pada skala spasial tertentu, mencatat struktur vegetasi serta kondisi tanah dan air, menilai transisi ekosistem dan tanda-tanda gangguan, serta membandingkan kondisi yang teramati dengan klasifikasi berbasis citra satelit.
Proses ini memungkinkan validasi data secara langsung dan menyoroti area-area di mana klasifikasi memerlukan penyesuaian.
Sebagaimana dicatat oleh salah satu peneliti yang terlibat dalam inisiatif Global Ecosystems Atlas Accelerator di Maladewa, tujuannya untuk “menjembatani data dan kenyataan” dengan memadukan sistem pengamatan global dan pengetahuan lokal guna menghasilkan peta yang dapat diandalkan oleh para pengambil keputusan.
Hasil pemetaan kini berada dalam tahap iterasi akhir, dengan tinjauan teknis dan validasi yang terus berlangsung antara James Cook University (JCU), Allen Institute for AI (Ai2), serta Kementerian Pariwisata dan Lingkungan Hidup Maladewa.
Pengamatan Iklim Global
Misi lapangan ini tidak menghasilkan data baru secara terpisah. Data tersebut kini digunakan untuk memperkuat dan menyempurnakan versi awal peta ekosistem nasional Maladewa. Nilai tambah lainnya terletak pada kemampuannya memperkuat keseluruhan rantai nilai data iklim.
Melalui WP3, hasil peta yang telah divalidasi akan dihubungkan secara langsung dengan Variabel Iklim Esensial, guna memastikan konsistensi dengan standar pengamatan global yang ditetapkan oleh GCOS.
Kerangka kerja WMO mendukung integrasi informasi ini ke dalam layanan iklim, sehingga memungkinkan pemanfaatannya dalam penilaian risiko dan perencanaan adaptasi.
GEO menyediakan platform koordinasi untuk memastikan bahwa data, metodologi, dan perangkat dapat diakses serta selaras di antara berbagai pemangku kepentingan.
Hasilnya adalah pergeseran dari:
• Produksi data menuju integrasi data
• Pengamatan global menuju penerapan nasional
• Hasil ilmiah menuju perangkat pendukung keputusan.
Proyek percontohan di Maladewa ini akan menggambarkan potensi peluang baru yang dapat terbuka melalui kolaborasi antara GCOS, GEO, dan WMO.
1. Data menjadi dapat saling beroperasi (interoperable). Variabel iklim yang ditetapkan di tingkat global dapat dihubungkan secara langsung dengan indikator ekosistem di tingkat nasional.
2. Informasi menjadi dapat dimanfaatkan. Alih-alih menggunakan kumpulan data yang terpisah-pisah, para pengambil keputusan memperoleh wawasan terintegrasi mengenai kesehatan dan kerentanan ekosistem.
3.Layanan menjadi relevan. Informasi iklim diterjemahkan menjadi perangkat yang mendukung tindakan nyata, mulai dari pengelolaan ekosistem hingga perencanaan adaptasi.
4. Model menjadi dapat diterapkan di tempat lain (transferable). Metodologi yang dikembangkan di Maladewa dirancang agar dapat disesuaikan untuk Negara-Negara Berkembang Pulau Kecil (Small Island Developing States) lainnya yang menghadapi tantangan serupa.
iClimateAction adalah proyek Horizon Europe yang mempertemukan GEO, WMO, dan GCOS untuk memperkuat rantai data Variabel Iklim Esensial, mulai dari ranah sains hingga layanan.
