Mengukur dan Memprediksi Perubahan Permukaan Laut

Pemulihan ekosistem laut dan pesisir masih jauh lebih terbatas. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Sains mengenai permukaan laut telah menjadi agenda utama dalam Sesi ke-59 Dewan Eksekutif Komisi Oseanografi Antarpemerintah (IOC) UNESCO.

Kegiatan Kuliah Peringatan Roger Revelle (Roger Revelle Memorial Lecture) berlangsung pada 2 Juli oleh Profesor Philip L. Woodworth, Emeritus Fellow di National Oceanography Centre dan Universitas Liverpool.

Roger Revelle Memorial Lecture dibentuk oleh IOC pada tahun 1991. Hal ini sebagai bentuk pengakuan atas kontribusi luar biasa dalam sains kelautan yang berkaitan dengan iklim, sekaligus untuk mengenang Roger Revelle—salah satu tokoh pendiri IOC dan pelopor dalam studi mengenai perubahan iklim akibat aktivitas manusia (antropogenik).

Melansir ioc.unesco.org dalam karya berjudul “Mengukur dan Memprediksi Perubahan Permukaan Laut” (Measuring and Predicting Sea Level Changes) —yang kini telah diterbitkan oleh IOC—Profesor Woodworth menguraikan bagaimana observasi melalui alat pengukur pasang surut (tide-gauge) selama lebih dari satu abad, dalam beberapa dekade terakhir dilengkapi dengan data altimetri satelit, telah mengubah pemahaman kita mengenai perubahan permukaan laut, baik di tingkat regional maupun global.

Publikasi Roger Revelle tersebut, bersama dengan Rencana Implementasi GLOSS yang baru, menyoroti satu kesinambungan penting: memahami perubahan permukaan laut di masa depan bergantung pada pemeliharaan catatan observasi jangka panjang.

Catatan ini memungkinkan para ilmuwan untuk mendeteksi tren, memahami variabilitas, mengevaluasi proyeksi, serta membedakan perubahan yang dipicu oleh iklim dari pergerakan vertikal daratan maupun faktor-faktor lokal lainnya.

Observasi dan Tindakan Global

Pada 24 September 2026, para pemimpin dunia berkumpul di Markas Besar PBB di New York untuk menghadiri Pertemuan Pleno Tingkat Tinggi Majelis Umum PBB. Dalam pertemuan tersebut  membahas ancaman eksistensial yang ditimbulkan oleh kenaikan permukaan laut.

Kenaikan permukaan laut terutama disebabkan oleh pemanasan samudra serta mencairnya lapisan es dan gletser, dampaknya pun telah dirasakan oleh berbagai komunitas di seluruh dunia.

Deklarasi Politik mengenai Kenaikan Permukaan Laut yang dihasilkan dari pertemuan tersebut mengakui konsekuensi luas di bidang lingkungan, sosial, dan ekonomi akibat naiknya permukaan laut—terutama bagi Negara Berkembang Pulau Kecil atau Small Island Developing States (SIDS), negara-negara dengan wilayah pesisir dataran rendah, serta kota dan komunitas yang sering kali berada di negara-negara yang paling kurang berkembang (Least Developed Countries – LDCs).

Deklarasi ini menekankan perlunya tindakan yang didasarkan pada sains dan pengetahuan terbaik yang tersedia, disertai dengan penguatan observasi, data, penilaian risiko, sistem peringatan dini, dan perencanaan adaptasi jangka panjang

Yang sangat penting bagi GLOSS, Deklarasi tersebut secara eksplisit mengakui pentingnya observasi samudra dan permukaan laut secara global dan terkoordinasi, termasuk melalui sistem GOOS dan GLOSS.

Pengakuan ini menyoroti peran mendasar dari pengamatan berkelanjutan dalam merespons kenaikan permukaan laut. Alat pengukur pasang surut, pengamatan satelit, dan pengukuran geodesi menyediakan informasi saling melengkapi yang diperlukan untuk memahami bagaimana permukaan laut berubah secara global maupun regional, menentukan bagaimana perubahan tersebut dirasakan di tingkat lokal, serta menilai perkembangan risiko di wilayah pesisir.

Pengamatan semacam itu tidak hanya menjadi landasan bagi penelitian ilmiah, tetapi juga merupakan komponen penting dalam layanan iklim, sistem peringatan dini, perencanaan wilayah pesisir, dan upaya adaptasi.

Dengan adanya Rencana Implementasi 2026, GLOSS memasuki fase pengembangan yang baru.

Penerapan rencana tersebut—mulai dari sertifikasi kategori stasiun baru hingga pembangunan sistem data GLOSS yang terpadu—akan bergantung pada kerja sama yang berkelanjutan di antara negara-negara anggota IOC, lembaga nasional, pusat data, institusi ilmiah, dan organisasi mitra internasional.

Lebih dari empat dekade sejak didirikan, misi mendasar GLOSS tetap tidak berubah: memastikan tersedianya pengamatan permukaan laut yang berkelanjutan dan berkualitas tinggi untuk kepentingan sains serta masyarakat.

Seiring dengan meningkatnya kenaikan permukaan laut sebagai tantangan global yang kian krusial, misi tersebut menjadi jauh lebih relevan daripada sebelumnya.

Kerangka Kerja

Rencana ini menetapkan kerangka kerja yang lebih jelas untuk kualitas data permukaan laut melalui serangkaian tahapan pemrosesan data (L0–L4). Mulai dari observasi mentah hingga catatan jangka panjang yang telah ditinjau secara menyeluruh, dengan kontrol datum yang lengkap serta informasi mengenai stabilitas vertikal.

Pendekatan ini akan meningkatkan konsistensi dan keterlacakan di seluruh stasiun maupun pusat data GLOSS, sekaligus membedakan antara kumpulan data yang sekadar digabungkan (aggregated) dan kumpulan data yang telah dikurasi (curated).

Salah satu inovasi utama adalah definisi dan klasifikasi baru untuk stasiun-stasiun GLOSS. Rencana ini memperkenalkan GLOSS Contributing Stations (GCS) dan GLOSS Reference Stations (GRS), disertai dengan proses pelabelan dan sertifikasi berbasis aplikasi.

GLOSS Reference Stations akan menjadi kategori dengan kualitas tertinggi yang menyuplai data untuk kumpulan data GLOSS yang telah dikurasi, sementara GLOSS Contributing Stations akan berkontribusi pada koleksi data GLOSS yang lebih luas.

Pada saat yang sama, GLOSS terus berkembang menuju sistem data internasional yang lebih terintegrasi, dengan memperkuat kerja sama di antara pusat-pusat data globalnya serta menjalin hubungan dengan Global Ocean Observing System (GOOS)—yang merupakan komponen inti dari GLOSS—, World Meteorological Organization (WMO), Global Climate Observing System (GCOS), International Hydrographic Organization (IHO), serta berbagai program global dan regional lainnya.

Rencana Implementasi yang baru ini juga disertai dengan revisi Kerangka Acuan (Terms of Reference) bagi Kelompok Pakar GLOSS (GLOSS Group of Experts) beserta Komite Pengarahnya.

Tiga kelompok kerja tematik—yang berfokus pada Arkeologi Data; Sensor dan Teknologi Baru; serta Kontrol Kualitas dan Manajemen Data—akan mendukung pelaksanaan rencana ini.

Exit mobile version