Menteri Susi: Masih Marak Penangkapan Ikan dengan Cara Merusak

Rusak karena Bom ikan

Terumbu karang atol di Reef IV, Kepulauan Togean, rusak karena kegiatan pengeboman ikan. FOTO: VERRIANTO MADJOWA

Selayar – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan, masih marak praktik penangkapan ikan dengan cara yang merusak (destructive fishing) oleh masyarakat.

Lokasi-lokasi yang menjadi sasaran seperti di Selayar, Taka Bonerate, Togean dan Teluk Tomini, Raja Ampat dan tempat-tempat lainnya.

“Di beberapa tempat saya datangi, di NTT, NTB, Maluku, dan lain-lain, kalau kita tanya ada yang ngebom ikan? Jawabnya, ada. Dari mana yang ngebom? Dari Sulsel,” kata Menteri Susi saat melakukan kunjungan ke Kabupaten Kepulauan Selayar, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel). Minggu (21/4) dan Senin (22/4).

Susi mengingatkan praktik destructive fishing yang sering dilakukan masyarakat harus diperbaiki agar tidak menambah kerusakan alam. Destructive fishing ini selain mengancam keberadaan ikan di alam, juga mengancam keberlanjutan terumbu karang.

Menurut Susi, pemulihan terumbu karang yang rusak akibat destructive fishing ini membutuhkan waktu yang sangat panjang. Bila penangkapan ikan demngan cara yang merusak terus berlanjut, karang Indonesia bisa kurang dari 50 persen yang masih baik.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. FOTO: KKP.GO.ID

Recovery coral (pemulihan terumbu karang) ini tidak mudah karena satu tahun coral itu hanya tumbuh paling kalau daerahnya subur airnya bagus 5 cm pun tidak. Rata-rata 1,5 – 2,5 cm saja. Dan coral pun akan terganggu karena cuaca. Jadi sebetulnya kalau kita merusak lagi, ya akan habis,” kata Susi.

Padahal, keberadaan terumbu karang ini sendiri sangat penting bagi ekosistem laut. Di terumbu karanglah ikan bertelur, beranak-pianak, dan berkembang biak.

“Ikan sama dengan kita, mereka tidak mau pacaran di gelombang tinggi besar. Mereka akan cari tempat teduh untuk beranak pianak. Mereka juga seperti ibu yang melepas anaknya dengan kasih sayang dengan pengetahuan bahwa anaknya di situ akan aman. Tidak mungkin dia akan memijah di gelombang besar di EEZ (Exclusive Economic Zone) ujung atau di high seas (laut lepas),” ujarnya.

Sekretaris Daerah Kabupaten Kepulauan Selayar, Marjani Sultan mengatakan, nelayan Kepulauan Selayar sudah mulai menerapkan perikanan yang berkelanjutan dan lestari.

“Alhamdulillah nelayan Selayar sudah mulai meninggalkan penangkapan kepiting bertelur. Kita juga terus menyosialisasikan agar masyarakat meninggalkan penggunaan bom, portas, dan sebagainya. Nelayan juga sudah mulai menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan,” kata Marjani.

Menteri Susi melakukan kunjungan ke Kabupaten Kepulauan Selayar, Provinsi Sulawesi Selatan didampingi Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Brahmantya Satyamurti Poerwadi dan Direktur Jenderal Perikanan Tangkap, M Zulficar Mochtar. Di Selayar Menteri Susi melakukan diskusi bersama Bupati Kepulauan Selayar, Muh Basli Ali, Sekretaris Daerah Kabupaten Kepulauan Selayar, dan perangkat pemerintah daerah (Pemda) lainnya di Sunari Beach Resort.*

Exit mobile version