Mikroplastik Lebih Tinggi di Dasar Laut Dekat Pesisir, Ada Pula yang Terperangkap di Lapisan Termoklin

GAMBAR: BRIN

Darilaut – Konsentrasi mikroplastik di dasar laut terbukti jauh lebih tinggi di area yang berdekatan dengan pesisir dibandingkan lepas pantai. Kondisi ini membuktikan pentingnya pengendalian sumber polusi lokal.

Namun, ada pula partikel mikroplastik yang terperangkap di lapisan termoklin. Alih-alih langsung tenggelam ke dasar laut atau murni mengapung, partikel mikroplastik kerap tertahan di lapisan termoklin tersebut.

Peneliti Pusat Riset Laut Dalam (PRLD) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Corry Yanti Manullang, mengatakan bahwa struktur kolom air yang sama ternyata juga bertindak sebagai perangkap bagi partikel asing.

Hal ini disampaikan dalam Deep-Sea Science Forum (DSSF) bertajuk “Toward Deep Sea Mission 2045” pada Selasa (1/9).

Corry menjelaskan hasil studi mengenai perjalanan mikroplastik di sepanjang Arus Lintas Indonesia (Arlindo) atau Indonesian Throughflow (ITF).

Keberadaan mikroplastik yang melayang di kolom air ini membuatnya rentan tertelan oleh organisme penyokong rantai makanan seperti kopepoda (krustasea kecil).

Terlebih lagi, fenomena pergerakan air vertikal seperti upwelling turut mendistribusikan ulang partikel ini ke berbagai kedalaman, sebelum pada akhirnya mengendap di sedimen laut dalam.

“Jika kita hanya memonitor permukaan, kita mungkin melewatkan partikel di sekitar termoklin, di perairan yang lebih dalam, di dalam organisme laut, dan sedimen laut dalam. Masalah tiga dimensi membutuhkan pemantauan tiga dimensi,” kata Corry seperti dikutip dari Brin.go.id.

Kepala Pusat Riset Laut Dalam (PRLD) BRIN, A’an Johan Wahyudi, mengatakan, apa yang terjadi di permukaan tidak selalu tetap berada di permukaan. Menjelajahi laut dalam seharusnya tidak hanya berarti pergi lebih dalam, melainkan memahami koneksi antara atmosfer, lautan permukaan, kolom air, organisme laut, dan dasar laut.

A’an menekankan bahwa arus laut mengangkut panas, nutrisi, hingga organisme melintasi jarak yang luas. Namun di saat yang sama, sirkulasi tersebut juga mengangkut material buatan manusia seperti plastik.

Keterhubungan sistem ini dibuktikan melalui riset terkait biologi perikanan yang dipaparkan oleh peneliti Departemen Polisi Maritim dan Sistem Produksi, Gyeongsang National University, Myounghee Kang.

Melalui analisis akustik dan lingkungan di Samudra Hindia Barat, Kang menemukan bahwa kondisi fisik laut, khususnya lapisan termoklin (area dengan perubahan suhu dan densitas air secara drastis), sangat menentukan distribusi biomassa zooplankton.

Konsentrasi mangsa di lapisan-lapisan spesifik inilah yang pada akhirnya mendikte pergerakan dan lokasi tangkapan spesies bernilai ekonomi tinggi seperti tuna tropis.

Forum ini menyampaikan sebuah pesan krusial bagi masa depan riset kelautan global. Upaya pelestarian, manajemen perikanan, hingga mitigasi polusi laut tidak bisa lagi hanya berfokus pada apa yang terlihat di permukaan, melainkan harus mengintegrasikan observasi oseanografi, akustik, dan biologi hingga ke titik terdalam lautan.

Lautan acap kali hanya dipandang sebagai hamparan air luas yang memisahkan daratan. Namun, di balik permukaannya, laut menyimpan sistem tiga dimensi yang sangat kompleks dan saling memengaruhi, mulai dari interaksi pergerakan arus, dinamika kolom air, hingga akumulasi material di dasar samudra terdalam.

Pemahaman yang terfragmentasi sering kali membuat manusia luput melihat bahwa sekecil apa pun perubahan atau polutan di permukaan akan membawa dampak berantai hingga ke palung laut.

Karena itu, pemahaman terhadap laut tidak dapat dibatasi pada kondisi permukaan. Sistem laut perlu dipelajari sebagai ekosistem tiga dimensi yang menghubungkan atmosfer, permukaan laut, kolom air, organisme, hingga dasar laut.

Exit mobile version