Darilaut – Jika ada “predator puncak” di antara berbagai jenis kebakaran, kebakaran lahan gambut tropis adalah salah satu kandidat utamanya. Kebakaran ini—yang terjadi pada tanah lahan basah yang mengering—berlangsung lambat, sangat mencemari udara, dan terkenal sulit dipadamkan karena bara apinya membara pada suhu rendah dan sering kali merambat di bawah permukaan tanah melalui hamparan gambut yang luas.
Menurut sebuah perkiraan, kebakaran lahan gambut menghasilkan partikulat halus tiga kali lebih banyak dibandingkan kebakaran hutan tropis lainnya, serta lima kali lebih banyak sulfur dioksida, tiga kali lebih banyak karbon organik, dan dua kali lebih banyak metana serta karbon monoksida.
Dalam artikel yang ditulis Adam Voiland yang diterbitkan Science.nasa.gov menguraikan musim kebakaran sedang berlangsung di Indonesia ketika sensor MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) pada satelit Aqua milik NASA menangkap citra ini pada tanggal 1 September 2026. Pada peta di sebelah kanan, setiap titik merah melambangkan satu “deteksi kebakaran”.
Deteksi kebakaran adalah piksel di mana sensor dan algoritma mengidentifikasi adanya anomali termal yang mengindikasikan kebakaran. Satu titik kebakaran bisa saja menghasilkan lebih dari satu deteksi.



