Darilaut – Mikroplastik dapat membahayakan ekosistem laut. Partikel plastik berukuran kecil ini telah menyebar ke berbagai kompartemen lingkungan hingga masuk ke rantai makanan manusia.
“Mikroplastik bukan lagi sekadar sampah plastik berukuran kecil, melainkan pencemar yang telah menyebar ke daratan, laut, udara, hingga masuk ke rantai makanan manusia,” ujar Prof. Muhammad Reza Cordova, pada Sabtu (9/5).
Dalam Webinar ISOI ke-1 bertajuk “Lautan Plastik: Ancaman Mikroplastik Terhadap Biodiversitas dan Lingkungan Laut serta Keamanan Rantai Makanan” Prof. Reza mengatakan bahwa produksi plastik global terus meningkat setiap tahun.
Pada 2022, produksi plastik dunia mencapai sekitar 460 juta ton dan terus bertambah pada tahun berikutnya. Namun, sebagian besar limbah plastik tersebut belum dikelola secara optimal sehingga banyak yang berakhir di lingkungan perairan.
Prof. Reza menjelaskan plastik di lingkungan tidak benar-benar hilang atau terurai sempurna. Plastik hanya mengalami fragmentasi menjadi partikel yang lebih kecil, yakni mikroplastik hingga nanoplastik.
Kondisi tersebut menyebabkan pencemaran plastik semakin sulit dikendalikan karena partikel kecil dapat menyebar dengan mudah.
Prof. Reza menjelaskan bahwa mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter yang terbagi menjadi dua jenis, yakni mikroplastik primer dan sekunder.
“Mikroplastik primer diproduksi dalam ukuran kecil sejak awal, seperti pelet plastik dan bahan tertentu pada produk kosmetik. Sementara itu, mikroplastik sekunder berasal dari pecahan plastik berukuran lebih besar akibat paparan sinar matahari, gelombang laut, dan proses degradasi lainnya,” jata Prof. Reza seperti dikutip dari Brin.go.id.
Menurut Prof. Reza, sumber mikroplastik berasal dari berbagai aktivitas manusia, seperti limbah perkotaan, tempat pembuangan akhir, industri tekstil, aktivitas mencuci pakaian sintetis, hingga kegiatan perikanan.
Partikel-partikel tersebut kemudian terbawa melalui sungai, saluran air limbah, bahkan atmosfer sebelum akhirnya masuk ke laut, kata Prof. Reza.
Prof. Reza menegaskan bahwa laut sebenarnya bukan sumber pencemaran plastik, melainkan tempat akumulasi akhir dari sistem pengelolaan sampah yang belum optimal.
Berdasarkan hasil kajian tim peneliti, mikroplastik telah ditemukan hampir di seluruh wilayah perairan Indonesia, mulai dari sungai, waduk, danau, estuari, hingga laut lepas.
Penelitian juga menunjukkan bahwa seluruh sampel air dan sedimen yang diteliti mengandung mikroplastik.
Namun, distribusi penelitian di Indonesia masih belum merata. Sebagian besar studi masih terfokus di Pulau Jawa dan Bali, sementara wilayah timur Indonesia masih minim data penelitian.
