Monster Baru di Laut Mediterania Sampah Plastik

Pelayaran di Laut Mediterania. FOTO: Baptiste Buisson/UNEP

Darilaut – Jika Odysseus umumnya menghadapi monster-monster yang merintanginya satu per satu, berbagai hambatan modern di Laut Mediterania justru saling berinteraksi dan menggerogoti kesehatan kawasan tersebut secara keseluruhan.

Monster-monster baru ini menimbulkan ancaman yang sangat serius. Setiap hari, diperkirakan sebanyak 730 ton sampah plastik masuk ke laut, sebagian besar terbawa oleh aliran sungai; plastik sekali pakai menyumbang lebih dari 60 persen sampah di pantai-pantai Mediterania.

Melansir UN News air limbah, bahan kimia industri, limpasan pertanian, dan polutan dari kapal turut mencemari perairan laut, di samping ancaman baru seperti limbah farmasi, mikroplastik, zat aditif plastik, serta meningkatnya kebisingan bawah air yang mengganggu satwa liar.

Gelombang Panas Hingga Polusi

Wilayah Mediterania mengalami pemanasan 20 persen lebih cepat dibandingkan rata-rata kenaikan suhu global, yang ditandai dengan seringnya terjadi gelombang panas musim panas.

Perubahan pola curah hujan, kenaikan permukaan laut, dan pengasaman laut juga memperparah risiko kekeringan, kebakaran hutan, banjir, erosi, dan kelangkaan air.

Aktivitas konstruksi, polusi, dan berbagai industri mengganggu serta merusak keanekaragaman hayati laut yang kaya, mulai dari penyu tempayan (loggerhead sea turtle) dan lumba-lumba bergaris hingga ikan todak, gurita, dan anjing laut biarawan Mediterania (Mediterranean monk seal) yang langka.

Tantangan-tantangan ini sering kali saling memperparah satu sama lain. Ketika ikan predator berukuran besar semakin langka, nelayan beralih menangkap spesies yang lebih kecil di tingkat rantai makanan yang lebih rendah, sehingga mengganggu jaring-jaring makanan.

Ekosistem pesisir yang rusak memberikan perlindungan yang lebih minim terhadap badai dan banjir. Suhu air yang lebih hangat mempermudah penyebaran spesies invasif, yang berdampak pada keanekaragaman hayati dan ekosistem asli. Pariwisata yang tidak bertanggung jawab menghasilkan lebih banyak sampah dan memberikan tekanan pada habitat yang rentan.

Rencana Aksi Mediterania  

Untungnya, laut memiliki pahlawan. Mediterranean Action Plan (MAP) atau Rencana Aksi Mediterania dari Program Lingkungan PBB (UNEP)—yang dibentuk pada tahun 1975—merupakan inisiatif pertama sejenisnya di bawah program laut regional badan tersebut yang lebih luas, yang kini menyatukan 145 negara untuk melindungi perairan asin dunia.

Program ini:

• Mendukung kawasan konservasi laut serta rencana aksi untuk keanekaragaman hayati dan habitat yang terancam

• Mendorong pemulihan ekosistem yang rusak.

• Membantu negara-negara mengidentifikasi dan mengendalikan jalur masuk spesies invasif guna mencegah penyebarannya

• Turut membentuk kawasan lindung khusus yang mencakup lebih dari delapan persen wilayah laut serta rencana perlindungan khusus spesies

• Memberikan saran mengenai perencanaan pesisir yang cerdas bagi berbagai negara, dengan fokus pada pemulihan dan kesehatan pertahanan alami seperti bukit pasir dan lahan basah

• Membantu pertumbuhan ekonomi kawasan Mediterania sembari menjaga ekosistem yang telah menopang kesejahteraan sejak zaman dahulu

Kesepakatan-kesepakatan penting kini mulai diwujudkan dalam tindakan nyata; Konvensi Barcelona—yang diadopsi oleh negara-negara Mediterania pada tahun 1976—menjadi kerangka kerja utama yang mengikat secara hukum bagi kawasan tersebut dalam melindungi lingkungan laut dan pesisir.

Konvensi ini memuat tujuh protokol yang menangani berbagai isu krusial seperti polusi, limbah berbahaya, keanekaragaman hayati, aktivitas lepas pantai, dan pembangunan pesisir.

Melalui UNEP/MAP dan Konvensi Barcelona, ​​21 negara Mediterania dan Uni Eropa kini bekerja sama, di mana badan lingkungan PBB mendukung negara-negara tersebut untuk menetapkan aturan bersama, memantau kesehatan laut, dan mengubah komitmen regional menjadi tindakan nyata di tingkat nasional.

Upaya ini mencakup bantuan bagi negara-negara untuk mengurangi polusi plastik dan bahan kimia, memperbaiki pengelolaan air limbah, serta bersiap menghadapi potensi bahaya seperti tumpahan minyak.

Rencana Regional tentang Sampah Laut (Regional Plan on Marine Litter) yang mengikat secara hukum—diadopsi oleh anggota MAP pada tahun 2013 dan diperbarui pada tahun 2021—merupakan inisiatif pertama sejenisnya yang mewajibkan para pihak untuk mengurangi dan menyingkirkan sampah laut serta mengintegrasikan pendekatan ekonomi sirkular.

Exit mobile version