Naiknya Permukaan Laut Diperparah El Niño di Delta Mekong

Berbekal data iklim untuk melindungi sawahnya dari kenaikan permukaan laut di Vietnam. FOTO: IFAD

Darilaut – Seiring naiknya permukaan laut, air asin merangsek semakin jauh ke daratan melalui Delta Mekong, Vietnam. Perubahan iklim membuat pola kekeringan dan banjir yang selama ini dikenal menjadi sulit diprediksi.

Bendungan di bagian hulu telah mengurangi secara drastis jumlah sedimen yang mengalir ke hilir Mekong, sehingga delta kehilangan pasokan material yang berfungsi memulihkan kesuburan tanah dan membantu garis pantainya mengimbangi kenaikan permukaan laut. Kini, fenomena El Niño pun mengancam akan memperparah keadaan tersebut.

Selama beberapa generasi, pertanian di Delta Mekong, bergantung pada keseimbangan yang rapuh. Sungai meluap, surut, lalu meluap kembali, membawa air tawar dan sedimen melintasi bentang alam datar yang lahan luasnya turut menjadikan negara tersebut salah satu eksportir beras terkemuka di dunia.

Kini, kekuatan yang berada jauh di luar kawasan muara sungai yang ikonik itu sedang mengubah tatanan keseimbangan tersebut.

Pihak berwenang Vietnam memperingatkan pada musim panas ini bahwa fenomena iklim tersebut dapat memicu suhu panas berkepanjangan, penurunan curah hujan, dan intrusi air asin yang semakin parah, yang berpotensi mengancam ratusan ribu hektar lahan padi di Delta Mekong.

Bagi Dr. Jack O’Connor, seorang ahli ekologi kelautan di Institute for Environment and Human Security milik Universitas PBB di Bonn, delta ini memberikan gambaran tentang persoalan yang semakin sering dihadapi oleh masyarakat pesisir di seluruh dunia.

Apa yang terjadi ketika upaya melawan perubahan lingkungan tidak lagi memadai, dan manusia harus belajar untuk hidup berdampingan dengannya?

“Waktu terjadinya banjir, intensitas banjir, serta tingkat dan waktu suhu panas menjadi semakin sulit diprediksi oleh para petani,” ujar Dr. O’Connor, mengutip UN News. “Padahal, semua faktor ini menentukan kapan mereka harus menanam tanaman mereka.”

Delta Kekurangan Pasokan Sedimen

Perubahan iklim hanyalah sebagian dari masalah yang ada.

Sungai Mekong bermula di Dataran Tinggi Tibet dan mengalir melintasi Tiongkok serta sebagian besar wilayah Asia Tenggara sebelum bermuara di laut di wilayah selatan Vietnam.

Bendungan-bendungan yang dibangun di bagian hulu telah menahan sebagian besar sedimen yang dulunya mengalir ke hilir.

Menurut sebuah studi ilmiah yang diterbitkan pada tahun 2021, jumlah sedimen yang mencapai delta telah merosot tajam dari sekitar 143 juta metrik ton dua dekade lalu menjadi diperkirakan hanya 32 juta ton.

Hilangnya lahan tersebut merupakan hal yang krusial karena delta bukan sekadar daratan yang terletak di tepi perairan; delta terus-menerus dibentuk kembali oleh aliran sungai.

Biasanya, kata Dr. O’Connor, sedimen yang terbawa dari hulu akan mengendap di sepanjang pesisir dan tertahan oleh lahan basah serta hutan bakau. Permukaan tanah pun perlahan ikut meninggi—sebuah mekanisme pertahanan alami terhadap kenaikan permukaan laut.

Namun, ketika bendungan menghambat proses tersebut, “pasokan air tawar maupun pasokan sedimen menjadi berkurang,” ujarnya. Sedimen tersebut, “sangat penting untuk menjaga agar garis pantai tetap mampu mengimbangi kenaikan permukaan laut.”

Masuknya Air Asin

Dampaknya meluas jauh melampaui garis pantai. Seiring naiknya permukaan laut dan berkurangnya air tawar selama musim kemarau, air asin dapat merembes masuk ke sungai, kanal, dan air tanah, sehingga mengancam tanaman pertanian di wilayah pedalaman.

Tahun ini, otoritas Vietnam kembali memperketat langkah-langkah perlindungan pasokan air tawar seiring merambatnya air asin ke arah hulu selama musim kemarau.

Pemerintah telah menyerukan penerapan langkah-langkah jangka panjang untuk mengatasi intrusi air asin, penurunan muka tanah, dan erosi di seluruh wilayah delta.

Akan tetapi, upaya membendung masuknya air asin tidak selalu mudah dilakukan.

Dr. O’Connor telah menyaksikan bagaimana solusi yang diambil bisa memicu dilema yang pelik. Sebagai contoh, pihak berwenang yang memantau kadar garam terkadang menutup pintu air ketika air sungai menjadi terlalu asin untuk irigasi sawah yang aman. Namun, para petani mungkin menghadapi masalah yang lebih mendesak.

“Mereka khawatir akan dampak air asin terhadap tanaman mereka,” ujarnya, “tetapi mereka jauh lebih khawatir akan kenyataan bahwa tanpa air, tidak akan ada panen sama sekali.”

Exit mobile version