Darilaut – Erosi garis pantai dan hilangnya pepohonan telah mengubah lokasi tempat para nelayan biasa menambatkan perahu mereka.
Pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun di kalangan komunitas nelayan—mengenai tempat berkumpulnya spesies ikan tertentu dan kedalaman habitatnya—kini tidak lagi bisa diandalkan sepenuhnya.
Di perairan tersebut, seorang nelayan, Ali Hamis Daudi, menyaksikan perubahan wajah Pangani
“Jika datang terlambat, Anda mungkin tidak akan menemukan tempat untuk menambatkan perahu,” ujar Daudi seperti dikutip dari UN News.
“Dulu, kami tahu persis di kedalaman berapa spesies ikan tertentu biasa berada. Sekarang, ikan-ikan itu telah berpindah.”
Menangkap ikan pun, menurutnya, kini menjadi tantangan berat.
Perubahan yang terjadi di Pangani merupakan salah satu wujud lokal dari pergeseran global.
Hampir 770 juta orang—atau sekitar satu dari setiap 10 penduduk Bumi—tinggal di wilayah pesisir yang ketinggiannya kurang dari lima meter di atas garis pasang tertinggi, demikian menurut laporan Sekretaris Jenderal PBB mengenai tantangan akibat kenaikan permukaan laut.
Rata-rata permukaan laut global naik sebesar 4,7 milimeter per tahun antara tahun 2014 dan 2023. Pada tahun 2024, kenaikan tahunan tersebut mencapai rekor tertinggi sebesar 5,9 mm.



