Darilaut – Fenomena objek terang yang melintas di langit wilayah Lampung dan Banten, kemudian viral di media sosial akhirnya terungkap.
Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika dari Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa objek tersebut merupakan sampah antariksa berupa sisa roket Tiongkok CZ-3B yang memasuki atmosfer Bumi.
Menurut Thomas, objek tersebut terlihat mencolok karena memasuki atmosfer dengan kecepatan tinggi dan mengalami gesekan dengan udara, sehingga terbakar dan tampak terang dari permukaan Bumi.
Fenomena ini juga membuat objek tampak terpecah menjadi beberapa bagian, sebagaimana disaksikan oleh masyarakat di wilayah tersebut.
“Objek terang yang terlihat di langit itu adalah pecahan sampah antariksa. Ketika memasuki atmosfer yang semakin padat, benda tersebut terbakar dan pecah, sehingga terlihat seperti serpihan cahaya,” kata Thomas, Minggu (5/4), mengutip Brin.go.id.
Berdasarkan data dari Space-Track dan hasil analisis orbit lanjut Thomas, sisa roket tersebut meluncur dari arah India menuju Samudera Hindia di sebelah barat Sumatera. Sekitar pukul 19.56 WIB, ketinggiannya turun hingga di bawah 120 kilometer, memasuki lapisan atmosfer yang lebih padat.
Pada ketinggian tersebut, hambatan udara meningkat drastis dan menyebabkan objek kehilangan kecepatan serta ketinggian dengan cepat.
Proses ini memicu gesekan intens yang menghasilkan panas tinggi, sehingga benda tersebut terbakar dan terfragmentasi menjadi beberapa bagian sebelum akhirnya jatuh di permukaan bumi. Kemungkinan besar pecahannya jatuh tersebar di hutan atau di laut.
Thomas menjelaskan bahwa fenomena jatuhnya sampah antariksa sebenarnya bukan hal yang langka secara global, namun kejadian yang melintas dan dapat disaksikan langsung di wilayah Indonesia tergolong jarang.
Peristiwa serupa terakhir kali terjadi pada tahun 2022, ketika objek serupa terlihat di Lampung dan jatuh di wilayah Sanggau, Kalimantan Barat.
Thomas mengatakan fenomena ini pada umumnya tidak membahayakan masyarakat. Sebagian besar sampah antariksa akan habis terbakar di atmosfer sebelum mencapai permukaan Bumi. Risiko hanya muncul jika ada bagian yang tidak terbakar sempurna dan jatuh di area permukiman, namun hingga saat ini belum pernah terjadi di mana pun di dunia.
Penyebab utama sampah antariksa jatuh ke Bumi adalah adanya hambatan udara pada orbit rendah. Bekas roket atau satelit yang sudah tidak aktif akan mengalami perlambatan akibat interaksi dengan atmosfer, sehingga ketinggiannya terus menurun hingga akhirnya masuk ke lapisan atmosfer padat dan terbakar, kata Thomas.
Thomas mengimbau agar masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik apabila melihat fenomena serupa di masa mendatang. Fenomena ini merupakan bagian dari dinamika aktivitas antariksa global yang dapat diamati secara ilmiah, sekaligus menjadi momentum untuk meningkatkan literasi publik terkait sains dan keantariksaan.
Tim Observatorium Astronomi Itera Lampung (OAIL) juga telah mengidentifikasi fenomena benda jatuh yang terlihat di langit Lampung pada Sabtu (4/4) malam. Benda tersebut sampah antariksa (space debris) berupa sisa badan roket CZ-3B R/B milik Tiongkok.
Fenomena cahaya kemerahan yang disertai dentuman itu dipastikan merupakan peristiwa masuk kembali (re-entry) objek buatan ke atmosfer Bumi.
Kepala Pusat OAIL Itera, Dr. Annisa Novia Indra Putri, menjelaskan bahwa objek CZ-3B R/B merupakan bagian dari roket Long March 3B yang sebelumnya digunakan dalam misi peluncuran satelit oleh Tiongkok pada 23 Januari 2025.
